KAJIAN PRAGMATIK TEKS “MéNAKJINGGA LéNA” PADA SENI PERTUNJUKAN LANGENDRIYA MANDRASWARA MANGKUNEGARAN
Oleh :
Sutarno Haryono
ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap pemahaman makna tindak tutur terkait dengan konteks. Permasalahan yang diangkat meliputi: jenis-jenis tindak tutur, strategi pengutaraan, prinsip kerja sama, prinsip kesantunan, implikatur, daya pragmatik, konsepsi penciptaan, dan dampak terhadap masyarakat. Mengingat permasalahan yang diungkap sangat kompleks, maka memerlukan berbagai sudut pandang dengan menggunakan ilmu-ilmu linguistik, ilmu komunikasi, ilmu seni pertunjukan (estetika), dan budaya. Ilmu pragmatik menjadi perhatian utama dan cenderung menempatkan seni pertunjukan di dalam proses komunikatif, tidak hanya dianggap sebagai produk dan pernyataan melainkan juga sebagai produksi makna dan ucapan. Ilmu pragmatik adalah komunikasi makna yang terikat dengan konteks, mengkaji makna penutur meskipun tidak dikatakan atau ditulis, tetapi terjadi komunikasi yang baik antara penutur dan petutur. Tiga fokus perhatian kajian pragmatik yaitu: hubungan antara teks dengan sumbernya, menekankan dinamik pengucapan dan kesengajaan komunikatif; hubungan antara teks dengan teks-teks lain, yang menyangkut masalah konteks dan praktik intertekstual; dan hubungan antara teks dengan penerimanya, yang menyangkut tindak tutur dan interpretasi. Analisis tekstual dipisahkan menjadi dua bagian: ko-tekstual dan kontekstual. Pertama, analisis ko-tekstual terkait dengan keteraturan “internal” pada teks pertunjukan, (heterogenitas ekspresif, keragaman kode, durasinya yang hanya sementara, atau sifatnya tidak dapat diulang-ulang), dan kedua, analisis kontekstual memperhatikan aspek-aspek “eksternal” pada teks pertunjukan, selanjutnya dipisahkan menjadi konteks kultural dan konteks pertunjukan. Langendriya Mandraswara Mangkunegaran menggunakan komponen verbal dan komponen nonverbal, sebagai media komunikasi antarpenari. Komponen verbal dalam bentuk bahasa Jawa berupa tembang macapat yang sangat terikat oleh konvensi-konvensi yang berlaku. Komponen verbal meliputi: jenis-jenis tindak tutur dan tindak tutur yang dominan, realisasi pengutaraan, prinsip kerja sama, prinsip kesantunan, implikatur, dan daya pragmatik. Implikatur dan daya pragmatik mencoba mengungkap pesan-pesan pendidikan, keadilan (hukum), dan budaya yang terbingkai dalam seni pertunjukan. Komponen nonverbal terdiri dari gerak tari, karawitan tari, rias-busana, properti, dan tata cahaya. Masing-masing medium memiliki kekuatan yang berbeda, namun dalam seni pertunjukan, kekuatan-kekuatan menjadi satu kesatuan yang utuh. Pengungkapan komponen verbal diperkuat oleh komponen nonverbal, sehingga lebih menarik, estetis, dan ekspresif, serta muncul makna yang baru. Bentuk penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif deskriptif. Strategi yang digunakan adalah studi kasus tunggal, karena penelitian ini terarah pada satu karakteristik tindak tutur “Ménakjingga Léna” pada seni pertunjukan Langendriya Mandraswara Mangkunegaran. Pendekatan menggunakan kritik holistik dengan mengkaji tiga faktor utama yaitu faktor genetik, factor objektif, dan faktor afektif. Informasi atau perolehan data yang masih beragam, dikelompokkan menjadi tiga jenis faktor yaitu 1). Faktor genetik (latar belakang), yang berkaitan dengan latar belakang atau konsep dasar penciptaan dan proses pembentukkan jenis-jenis tindak tutur; 2). Faktor objektif (teks dalam seni pertunjukan Langendriya Mandraswara “Ménakjingga Léna” teks verbal dan nonverbal; 3). Faktor afektif (dampak, persepsi masyarakat). Analisis teks dilakukan secara menyeluruh dan saling berkaitan di antara tiga faktor tersebut, dan analisis akhir sebagai suatu simpulan makna pragmatik. Hasil temuan pada penelitian ini sesuai dengan rumusan masalah di antaranya adalah: jenis-jenis tindak tutur dan tindak tutur yang dominan yaitu direktif sebanyak 46,84% dari 301 jenis; pengutaraan tindak tutur menggunakan tindak tutur langsung literal lebih dominan; tingkat pematuhan prinsip kerja sama khususnya maxim relevansi lebih banyak; tingkat pematuhan prinsip kesantunan tidak terjadi pelanggaran; implikatur banyak digunakan dengan tujuan agar mitra tutur tidak tersinggung, menyenangkan, dan sebagai bentuk penghormatan; daya pragmatik terdapat pesan-pesan tersirat yaitu pendidikan, agama, hukum, politik, dan budaya; konsepsi penciptaan bertolak dari perilaku kehidupan masyarakat dan nilai-nilai budaya Jawa; dampak sebagai pijakan “ruh” bagi para seniman dalam kekaryaan seni. Diharapkan hasil penelitian ini bisa memberikan kontribusi para peneliti muda sebagai wacana dalam penerapan teoretik maupun praktis. Selain itu, membuka wawasan yang lebih luas terhadap kritikus seni yang dapat dipercaya dan memiliki dasar untuk mempertanggung jawabkan hasilnya. Dengan demikian nilai-nilai budaya masa lampau diharapkan dapat terungkap secara menyeluruh dan dipakai sebagai cerminan kehidupan masa depan bangsa. Key words: Pragmatik, Tindak Tutur, Teks, Konteks, Implikatur, Daya Pragmatik, Genetik, Objektif, dan Afektif. ABSTRACT The aim of this research is to uncover an understanding of the meaning of speech acts in relation to their context. The problems addressed include: types of speech acts, strategies of communication, principles of cooperation, principles of politeness, implicature, pragmatic force, creative conception, and the impact on society. Since the problems to be addressed are highly complex, a number of different angles of approach are needed, some of which are borrowed from the fields of linguistics, communication, performing arts (aesthetics), and culture. Pragmatics is the primary focus and is inclined to position performing arts within the communicative process, regarding it not only as a product and a statement but also as the production of meaning and utterance. Pragmatics is the communication of meaning which is closely related to context, the study of the meaning of the speaker, even when not spoken or written, and the good communication between the speaker and the listener. The three main areas of focus of a pragmatic study are: the relationship between the text and its source, which emphasizes the dynamics of enunciation and communicative intentionality; the relationship between the text and other texts, which concerns issues of context and intertextual practices; and the relationship between the text and its receiver, which involves speech acts and interpretation. The textual analysis is divided into two parts: co-textual and contextual. First, co-textual analysis, which is related to “internal” regularities in the performance text (expressive heterogeneity, multiplicity of codes, ephemeral duration, or non-repeatability), and second, contextual analysis, which pays attention to “external” aspects of the performance text, and can be further divided into the cultural context and performance context. Langendriya Mandraswara Mangkunegaran uses verbal and non-verbal components as the media of communication between dancers. The verbal component uses the Javanese language in the form of tembang macapat, which is strongly bound by prevailing conventions. The verbal component includes: kinds of speech acts and dominant speech acts, realization of utterances, principles of cooperation, principles of politeness, implicature, and pragmatic force. Implicature and pragmatic force attempt to express messages pertaining to education, justice, and culture, which are contained within the performing art. The non-verbal component consists of dance movements, dance accompaniment (karawitan), make-up and costume, properties, and lighting. Each medium has different strengths but within the art performance these strengths combine to create a unified whole. The expression of the verbal component is strengthened by the non-verbal component so that the result is attractive, aesthetical, and expressive, and a new meaning emerges. This research uses a descriptive qualitative research method. The strategy used is a single case study, since the research focuses on a single characteristic, namely the speech acts in Ménakjingga Léna in the Langendriya Mandraswara Mangkunegaran art form. A critical holistic approach is used which concentrates on three main factors, namely the genetic factor, objective factor, and affective factor. The various information and data collected were then grouped into three types of factors, namely 1) The genetic factor (background), which was related to the background or basic concept of the creative process and the process of creating different types of speech acts; 2) The objective factor (the text in the Ménakjingga Léna Langendriya Mandraswara performing art form, including the verbal and non-verbal texts); 3) The affective factor (impact, social perception). A comprehensive analysis of the text Ménakjingga Léna in the Langendriya Mandraswara Mangkunegaran art form was carried out in relation to the connection between the three factors mentioned above, with a final analysis providing a conclusion of the pragmatic meaning. The results of the findings in accordance with the formulation of the problems addressed were: the different types of speech acts and the dominant speech acts, that is of the 301 types, 46.84% were directive; speech act utterances used more literal direct speech acts; the level of adherence to the principle of cooperation, in particular the maxim of relevance; there was complete adherence to the principle of politeness; implicature was used on numerous occasions, largely so as not to cause offence to the listener, to make the speech act more pleasant, and as a form of respect; the pragmatic force contained hidden messages pertaining to education, religion, law, politics, and culture; the creative conception was founded on the social behaviour and cultural values of the Javanese community; the impact was as a spiritual foothold for artists in their creative endeavours. It is hoped that the results of this research will provide a contribution for young researchers, as a discourse for both theoretical and practical application. In addition, it is hoped that this study will provide new knowledge for art critics who have credibility and the grounds to justify their results. As such, it is hoped that the cultural values of the past will be revealed in their entirety and be used as a reflection for the future life of the nation. Key words: Pragmatics, Speech Acts, Text, Context, Implicature, Pragmatic force, Genetic, Objective, and Affective.

Links

News

About

Perpustakaan Digital adalah sebuah sistem yang memiliki berbagai layanan dan obyek informasi yang mendukung akses obyek informasi melalui perangkat digital.