KAJIAN LAHAN KRITIS UNTUK ARAHAN REHABILITASI DAERAH ALIRAN SUNGAI JLANTAH HULU KABUPATEN KARANGANYAR TAHUN 2010
Oleh :
Agung Hidayat
Tujuan penelitian ini adalah untuk: (1). Mengetahui faktor-faktor fisik yang menyebabkan terjadinya lahan kritis, (2). Mengetahui tingkat kekritisan lahan, dan (3). Menyusun arahan rehabilitasi lahan kritis yang sesuai di DAS Jlantah Hulu. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif spasial, dengan satuan lahan sebagai satuan analisis. Satuan lahan merupakan bagian dari lahan dengan kesamaan karakteristik lahan berupa geologi, tanah, lereng, dan penggunaan lahan. Tumpang susun dari empat karakteristik itu dihasilkan Peta Satuan Lahan dengan 32 unit lahan, yang merupakan populasi penelitian. Sampel tanah diambil dengan Purposive Sampling sebanyak 10 lokasi. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan observasi lapangan, analisis dokumentasi termasuk interpretasi citra dan peta, dan analisis laboratorium. Analisis spasial menggunakan SIG (Sistem Informasi Geografis). Teknik analisis faktor penyebab lahan kritis dengan deskriptif spasial dengan luaran berupa Peta Liputan Lahan, Peta Lereng, Peta Tingkat Bahaya Erosi, dan Peta Pengelolaan Lahan; Analisis tingkat kekritisan lahan dengan skoring dan pembobotan dengan luaran berupa Peta Lahan Kritis; dan arahan rehabilitasi lahan diarahkan berdasarkan pedoman rehabilitasi lahan dan konservasi tanah dari Departemen Kehutanan dengan luaran berupa Peta Arahan Rehabilitasi Lahan. Kesimpulan penelitian ini adalah: 1). Faktor-faktor fisik penyebab lahan kritis yaitu buruknya keadaan liputan lahan, kondisi kemiringan lereng yang didominasi oleh lereng-lereng curam, tingginya tingkat bahaya erosi, dan pengelolaan lahan yang kurang memperhatikan kaidah-kaidah konservasi dan rehabilitasi lahan, 2). Tingkat Kekritisan Lahan terdiri dari: (a). Sangat Kritis, dengan luas 113,416 Ha (5,05%); (b). Kritis, dengan luas 232,261 Ha (10,33%); (c). Agak Kritis, dengan luas 560,530 Ha (24,94%); (d). Potensial Kritis dengan luas 1271,725 Ha (56,59%); dan (e). Tidak Kritis dengan luas 69,510 (3,09%), 3). Arahan rehabilitasi lahan disusun dengan mempertimbangkan kondisi fisik lahan berupa: tingkat kekritisan lahan, tingkat bahaya erosi, fungsi kawasan, kemiringan lereng, kedalaman solum tanah dan penggunaan lahan aktual, sehingga diperoleh 10 (sepuluh) kelompok arahan rehabilitasi. Arahan itu merupakan usaha sedemikian rupa untuk mengembalikan lahan yang telah atau berpotensi kritis agar dapat berfungsi sesuai fungsi kawasannya, mencegah erosi, dengan cara vegetative, seperti penanaman rumput, agroforestry, silvopasture, mulsa, dan secara teknik diarahkan untuk pembuatan atau penyempurnaan bentuk teras yang sudah ada, pembuatan sumur resapan, rorak, sumbat jurang dan saluran pembuangan air. Kata Kunci: Deskriptif Spasial, Satuan Lahan, Lahan Kritis, Rehabilitasi Lahan, DAS hulu. This study is aimed to: (1). Know the physical factors that cause critical land, (2). Know the level of critical land, and (3). Make referral rehabilitation of critical land in the Jlantah Upstream Watershed. This study use descriptive spatial method, with landunit as the unit analysis. Landunit are part of the land with similar land characteristics of geology, soils, slope, and land use. Overlaying of those characteristics that produced Land Unit Map, consist of 32 land units, which is the study population. Soil samples taken using purposive sampling, consist of 10 area. Data collecting by field observations, documentation analysis including image interpretation and map, and laboratory analysis. Spatial analysis using GIS (Geographic Information System). Analysis of physical factor causes critical land by descriptive spatial, with out put a Land Cover Map, Slope Map, Erossion Hazard Level Map, and Land Management Map; Analysis level of critical land by scoring and weighting with out put a Critical Land Map; and land rehabilitation referrals are directed based on the guidelines for land rehabilitation and soil conservation from the Ministry of Forestry with out put a Land Rehabilitation Map. The conclusion of this research are: 1). Physical factors causing the critical land is the bad state of land coverage, slope conditions dominated by high slopes, high level of erosion hazard, land management and lack of attention to the rules of conservation and land rehabilitation. 2). Criticality Level in Jlantah Upstream Watershed Area consists of: (a). Very Critical, area of 113.416 ha (5.05%) ; (b). Critical, area of 232.261 ha (10.33; (c). Slightly Critical, area of 560.530 ha (24.94%); (d). Critical Potential, area of 1271.725 ha (56.59%); and (e). Not Critical, area of 69.510 (3.09%). 3). Referrals land rehabilitation prepared based on physical condition of land, like: critical land level, erosion hazard level, region function, slope, soil and actual land use, in order to obtain 10 (ten) rehabilitation referral group. Referrals is a effort in such a way to restore land that has been or potentially critical in order to function according to the function region, control of erotion and runoff with vegetative method, such as pasture or grassland, life fence, intercropping, agroforestry, silvopasture, mulch, and the technique is directed to the manufacture or refinement of an existing terrace into gridge terrace, bench terrace, garden terrace, hiilslide ditch, making absorbtion wells, silt pit, gully control and waterway. Key word: Descriptive spatial, Land unit, Critical land, Land rehabilitation, upstream watershed.

Links

News

About

Perpustakaan Digital adalah sebuah sistem yang memiliki berbagai layanan dan obyek informasi yang mendukung akses obyek informasi melalui perangkat digital.