PENGGUNAAN BAHASA DALAM TEMBANG DAN PUISI JAWA MODERN
Oleh :
Herman J. Waluyo

Penelitian ini bermaksud mendeskripsikan dan menganalisis bahasa yang digunakan dalam tembang (Jawa) dan puisi Jawa modern. Yang dimaksud dengan tembang adalah puisi Jawa tradisional yaitu puisi dengan ikatan kebahasaan yang sangat ketat yang berupa: aturan tentang jumlah baris tiap bait (guru gotro), aturan tentang jumlah suku kata setiap baris (guru wilangan), aturan tentang bunyi vokal di akhir baris (guru lagu), persajakan (purwokanthi), sifat atau watak lagu (watak). Yang dimaksud dengan puisi Jawa modern adalah puisi Jawa yang sudah tidak menggunakan ikatan-ikatan tersebut dan ditulis seperti halnya puisi dalam sastra Indonesia.

                        Penelitian ini meneliti bahasa yang dipakai dalam tembang mocopat  yang terdiri atas: dandang gulo, pangkur, megatruh, kinanthi, sinom,maskumambang, asmorodono, pocung, gambuh, dan mijil. Puisi Jawa Modern yang diteliti meliputi kurun waktu Periode 1940-an sampai dengan tahun 1980-an. Sumber data dari tembang-tembang Jawa adalah buku-buku penting karya pujangga Jawa, seperti: Wulangreh (Paku Buwono IV),  Tripomo dan Wedhatama (Mangkunagoro IV), Kalatidha dan Joko Lodhang (Ranggawarsito), Centhini  (Paku Buwono V), dan Serat Kandhaning Ringgit Purwo (Asio Padmopuspito). Untuk puisi Jawa modern diambil dari karya-karya penyair setelah tahun 1940, yang dikumpulkan dalam buku-buku : Kumpulan Geguritan dan Antologi Puisi Jawa Modern  (Suripan Sadi Hoetomo, 1983 dan 1986), Pengantar Puisi Jawa dan Lintang-lintang Abyor  (Susatyo Darnawi , 1964 dan 1983), Kidung Awang-awang  (A. Nugroho, 1981), Geguritan  (Roeswardiyatmo, 1983),  Kabar saka Paran  dan Taman sari (Trims Sutijo, 1976, 1983), Bunga Rampai Sastra Jawa Modern  (J.J.Ras, 1979).

                        Tembang Jawa yang diteliti menggunakan bahasa figuratif yang merupakan bahasa tingkat tinggi. Diksi (pemilihan kata-kata) adalah kata-kata dalam bahasa Jawa tengahan yang saat ini sudah sulit dipahami oleh anak-anak muda. Struktur kebahasaan tembang yang diciptakan oleh para pujangga itu betul-betul padu, indah, mempesonakan, dan “nges”.

                        Sementara itu, puisi Jawa modern banyak dipengaruhi oleh puisi Indonesia modern. Puisi-puisi Periode 1940-an sampai dengan 1970-an msih menggunakan pilihan kata yang “dakik-dakik” dengan simbol-simbol yang halus. Puisi Jawa setelah periode 1970-an adalah puisi-puisi dengan bahasa sehari-hari, kritik-kritik sosial dengan bahasa kasar, bahkan kadang-kadan vulgar. Karya-karya Poer Adie Prawoto dan Effix Mulyadi, misalnya, banyak terpengaruh puisi-puisi Sutardji Calzoum Bachri dan F.Rahardi dengan menggunakan kata-kata yang berbau porno (misalnya kucing gandhik dan penyebutan organ seksualitas wanita.

Links

News

About

Perpustakaan Digital adalah sebuah sistem yang memiliki berbagai layanan dan obyek informasi yang mendukung akses obyek informasi melalui perangkat digital.