Penulis Utama : Liling Joko Suprapto
Penulis Tambahan : -
NIM / NIP :
Tahun : 2006
Judul : Analisis perubahan struktur ekonomi dan basis ekonomi propinsi di Yogyakarta tahun 1998-2004 (implementasi pelaksanaan otonomi daerah)
Edisi :
Imprint : Surakarta - Fak. Ekonomi - 2006
Kolasi : xiii, 164 hal.: ilus., lamp., tab.
Sumber : UNS-Fak. Ekonomi NIM.F0102039
Subyek : PERGESERAN STRUKTUR EKONOMI
Jenis Dokumen : Skripsi
ISSN :
ISBN :
Abstrak :

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendapatkan gambaran kinerja pembangunan Propinsi DIY yang diindikasikan dengan pergeseran struktur ekonomi, pola pertumbuhan ekonomi dan perkembangan sektor unggulan antara era sebelum dan pada era otonomi daerah. Hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah diduga pergeseran struktur ekonomi, tingkat konsentrasi dan spesialisasi, basis ekonomi sektoral, sektor ekonomi potensial dan sektor ekonomi unggulan antara era sebelum dan pada era otonomi daerah adalah berbeda.

Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif, dengan menggunakan data sekunder yang berupa variabel PDRB beserta komponen-komponennya di Propinsi DIY dan juga variabel PDB Indonesia antara era sebelum (1998-2000) dan pada era otonomi daerah (2001-2004). Adapun metode analisis data yang digunakan antara lain analisis Deskriptif, analisis Shift-Share E-M, analisis Indeks Konsentrasi, analisis Indeks Spesialisasi, analisis LQ, analisis MRP, dan analisis Overlay. Selain itu untuk menguji gambaran kinerja antara era sebelum dan pada era otonomi daerah digunakan analisis uji t untuk dua sampel berpasangan dan analisis uji t untuk dua sampel independen (khusus pada hasil analisis LQ).

Berdasarkan analisis deskriptif didapat hasil bahwa telah terjadi perubahan struktur ekonomi yang ditunjukkan dengan menurunnya kontribusi sektor primer dan meningkatnya kontribusi kelompok sektor lain. Berdasarkan analisis Shift-Share E-M didapat hasil pergeseran struktur ekonomi pada era sebelum otonomi daerah sebesar Rp. 614.149,57 juta, sedangkan pada era otonomi daerah sebesar Rp. 2.093.742 juta. Dari pengujian beda 2 mean didapat hasil bahwa hanya komponen Nij yang berbeda secara significant antara kedua era tersebut, sedangkan komponen Mij, C’ij dan Aij tidak berbeda secara significant. Berdasarkan hasil analisis indeks konsentrasi didapat hasil pola pertumbuhan ekonomi baik pada era sebelum maupun pada era otonomi daerah adalah semakin menyebar dengan perubahan koefisien konsentrasi masing-masing sebesar -0,0276 dan -0,0552. Dari pengujian beda 2 mean didapat hasil bahwa perubahan koefisien konsentrasi antara kedua era tersebut tidak terdapat perbedaan yang significant. Berdasarkan analisis indeks spesialisasi didapat hasil bahwa pola pertumbuhan ekonomi baik pada era sebelum maupun pada era otonomi daerah adalah semakin menyebar/tidak terspesialisasi dengan perubahan koefisien spesialisasi masing-masing sebesar -0,0581 dan -0,0219. Dari pengujian beda 2 mean didapat hasil bahwa perubahan koefisien spesialisasi antara kedua era tersebut tidak terdapat perbedaan yang significant. Sementara itu, dari hasil identifikasi basis ekonomi sektoral dengan analisis LQ menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan berarti deskripsi sektor ekonomi basis antara kedua era tersebut. Hal ini diperkuat dengan hasil uji beda 2 mean yang nilai probabilitasnya > 0,05 dan hasil uji beda 2 mean secara sektoral yang nilai probabilitas pada sebagian besar sektor > 0,05 (kecuali pada sektor industri pengolahan dan listrik gas, dan air bersih). Dari analisis MRP didapat hasil bahwa deskripsi sektor ekonomi potensial mengalami penurunan pada era otonomi daerah dikarenakan beberapa sektor tumbuh lebih lambat dibanding sektor yang sama di wilayah nasional, namun demikian hasil uji beda 2 mean menunjukkan bahwa deskripsi sektor ekonomi potensial tidak berbeda secara significant antara kedua era tersebut. Dengan menggabungkan hasil analisis LQ dan MRP didapat sektor ekonomi unggulan (kontribusi (+) pertumbuhan (+)) di Propinsi DIY pada era sebelum otonomi daerah adalah sektor pertanian; bangunan; perdagangan; pengangkutan; keuangan; dan jasa-jasa, sedangkan pada era otonomi daerah sektor unggulannya adalah listrik, gas dan air minum; bangunan; perdagangan; dan keuangan.

Mengacu pada hasil tersebut, maka diajukan beberapa saran terhadap kebijakan pengembangan perekonomian sektoral di Propinsi DIY, sebagai berikut (1) pemerintah daerah perlu untuk melakukan identifikasi terhadap masalah-masalah yang dihadapi oleh sektor-sektor yang tertinggal di Propinsi DIY, agar dapat ditemukan solusi yang tepat untuk kebijakan pengembangan sektor tersebut ke depannya. (2) Pemerintah Propinsi DIY perlu lebih menggali potensi pengembangan sektor industri manufaktur, dikarenakan perkembangan sektor ini jauh tertinggal dibandingkan dengan sektor yang sama di wilayah nasional. (3) Pemerintah daerah perlu meningkatkan spesialisasi antar Kabupaten/Kota di Propinsi DIY. (4) kebijakan pembangunan dan pengembangan sektoral perekonomian daerah hendaknya lebih diprioritaskan pada sektor dan subsektor unggulan (kontribusi (+) dan pertumbuhan (+). (5) Perlunya upaya untuk lebih menarik investor untuk menanamkan modal pada sektor dan subsektor diluar kelompok sektor tersier, untuk mengurangi ketimpangan antar sektor di Propinsi DIY.

File Dokumen :

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Trying to get property of non-object

Filename: page/dok_detail.php

Line Number: 147

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Trying to get property of non-object

Filename: page/dok_detail.php

Line Number: 148

abstrak.pdf
Harus menjadi member dan login terlebih dahulu untuk bisa download.
File Jurnal : -
Status : Non Public
Pembimbing : 1. Drs. Akhmad Daerobi, MS
Catatan Umum :
Fakultas : Fak. Ekonomi dan Bisnis