Penulis Utama : Sri Andayani
Penulis Tambahan : -
NIM / NIP :
Tahun : 2007
Judul : Konflik politik pemerintahan ali bin abi thalib dengan muawiyah bin abi sufyan dalam perang shiffin tahun 658 M
Edisi :
Imprint : Surakarta - FKIP - 2007
Kolasi : xiv, 119 hal.
Sumber : UNS-FKIP NIM.K4401041-2007
Subyek : POLITIK
Jenis Dokumen : Skripsi
ISSN :
ISBN :
Abstrak : Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui (1) Kondisi Politik pada awal pemerintahan Ali bin Abi Thalib setelah dibai’at sebagai khalifah ke empat, (2) Konflik pemerintahan Ali bin Abi Thalib dengan Muawiyah bin Abi Sufyan, (3) Peristiwa tahkim Ali bin Abi Thalib dengan Muawiyah bin Abi Sufyan, (4) Implikasi-implikasi fitnah yang muncul sebagai dampak dari perang Shiffin. Penelitian ini menggunakan metode historis. Langkah-langkah yang ditempuh dalam metode historis ada empat tahap kegiatan, yaitu heuristik, kritik, interpretasi, dan historiografi. Sumber data yang digunakan adalah sumber sekunder. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah studi pustaka. Analisis data yang digunakan adalah analisis historis yaitu analisis yang mengutamakan ketajaman dalam menginterpretasikan fakta sejarah. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan: (1) Kondisi politik awal pemerintahan Ali bin Abi Thalib setelah dibai’at sebagai khalifah ke empat diwarnai dengan berbagai fitnah. Konflik yang muncul disebabkan adanya perbedaan pendapat mengenai waktu pelaksanaan hukum qishash bagi pembunuh Utsman. Aisyah, Thalhah bin Ubaidillah dan Zubair bin Awwam serta Muawiyah memandang pelaksanaan hukuman itu sebagai skala prioritas utama yang harus segera ditegakkan. Sedangkan Ali memandang pelaksanaannya ditangguhkan terlebih dahulu setelah pusat pemerintahan betul-betul tenang dan terkendali; juga setelah orang-orang yang mengepung rumah Utsman dapat diidentifikasi. Efek dari konflik tersebut mengantarkan pada perang Jamal dan perang Shiffin, (2) Konflik pemerintahan Ali bin Abi Thalib dengan Muawiyah bin Abi Sufyan dilatarbelakangi dengan adanya perbedaan pandangan dalam menyikapi qishash pembunuh Utsman. Muawiyah menginginkan qishash disegerakan melalui dirinya atau melalui Ali, baru kemudian Muawiyah taat kepada khalifah Ali. Sedangkan Ali menginginkan Muawiyah dan pengikutnya memberikan bai’at terlebih dahulu, baru menuntut darah Utsman. Sikap Muawiyah yang tetap bersikeras dengan pendapatnya, menyebabkan Ali menilai Muawiyah dan para pengikutnya sebagai pemberontak. Itulah sebabnya Ali menetapkan menundukkan Muawiyah dan pengikutnya agar kembali pada persatuan umat walaupun dengan cara kekerasan, sehingga mengantarkan kedua kubu yang berselisih ini dalam perang Shiffin, (3) Masalah tahkim antara Ali bin Abi Thalib dengan Muawiyah bin Abi Sufyan dilakukan di Azruh dengan perwakilan Abu Musa Al Asy’ari dari pihak Ali dan Amr bin Al Ash dari pihak Muawiyah. Kedua pihak bertahkim untuk menemukan jalan damai berdasar Al Qur’an dan As Sunnah, (4) Implikasi fitnah yang muncul sebagai dampak perang Shiffin dilihat dari segi politik ditandai dengan munculnya aliran-aliran yang memiliki visi politik yaitu Khawarij dan Syi’ah. Sedangkan dari segi akidah muncul bid’ah Khawarij dan bid’ah Syi’ah.
File Dokumen :

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Trying to get property of non-object

Filename: page/dok_detail.php

Line Number: 147

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Trying to get property of non-object

Filename: page/dok_detail.php

Line Number: 148

abstrak.pdf
Harus menjadi member dan login terlebih dahulu untuk bisa download.
File Jurnal : -
Status : Non Public
Pembimbing : 1. Drs. Saiful Bachri, MPd
2. Dr. Nunuk Suryani, MPd
Catatan Umum :
Fakultas : Fak. KIP