Penulis Utama : Sularto
Penulis Tambahan : -
NIM / NIP : K.2500043
Tahun : 2004
Judul : Pengaruh jenis sistem pengapian cdi dan jenis bensin terhadap kadar karbon monoksida (co) gas buang pada sepeda motor Honda Supra tahun 2003
Edisi :
Imprint : Surakarta - FKIP - 2004
Kolasi :
Sumber : UNS-FKIP Jur. Pendidikan Teknik dan Kejuruan-K.2500043-2004
Subyek : SISTEM PENGAPIAN
Jenis Dokumen : Skripsi
ISSN :
ISBN :
Abstrak : ABSTRAK Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui: (1) Ada tidaknya perbedaan pengaruh jenis sistem pengapian CDI terhadap kadar karbon monoksida (CO) gas buang pada sepeda motor Honda Supra Tahun 2003, (2) Ada tidaknya perbedaan pengaruh jenis bensin terhadap kadar karbon monoksida (CO) gas buang pada sepeda motor Honda Supra tahun 2003, (3) Ada tidaknya perbedaan interaksi antara jenis sistem pengapian CDI dan jenis bensin terhadap kadar karbon monoksida (CO) gas buang pada sepeda motor Honda Supra tahun 2003, (4) Jenis sistem pengapian CDI dan jenis bensin manakah yang menghasilkan kadar karbon monoksida (CO) gas buang yang paling rendah. Penelitian ini dilakukan di Dinas Lalu Lintas Angkutan Jalan (DLLAJ) Surakarta dengan alamat Jl. Menteri Supeno No. 7 Telp. (0271) 717470 Surakarta. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode eksperimen, populasi dalam penelitian ini adalah sepeda motor empat langkah merk Honda Supra tahun 2003. Sampel penelitian ini adalah sepeda motor Honda Supra tahun 2003. Pengambilan sampel menggunakan “Purposive Sampling”, teknik pengumpulan data dengan cara melakukan pengukuran kadar karbon monoksida (CO) gas buang. Teknik analisis data menggunakan variansi analisis dua jalan kemudian dilakukan uji komparasi ganda atau uji pasca anava, sebelumnya dilakukan uji prasyarat yaitu uji normalitas dan uji homogenitas. Untuk uji normalitas menggunakan Uji Liliefors dan untuk uji homogenitas menggunakan Uji Bartlett. Dari hasil perhitungan uji prasyarat analisis yaitu uji normalitas dengan metode Liliefors, di dapat: (1) Jenis sistem pengapian AC-CDI, Lobs = 0,187 < L0.01:15 = 0,257, (2) Jenis sistem pengapian DC-CDI, Lobs = 0,139 < L0.01:15 = 0,257, (3) Jenis bensin premium, Lobs = 0,170 < L0.01:10 = 0,294, (4) Jenis bensin Pertamax, Lobs = 0,236 < L0.01:10 = 0,294, (5) Jenis bensin Pertamax Plus, Lobs = 0,256 < L0.01:10 = 0,294, sehingga dapat disimpulkan bahwa semua Lobs lebih kecil dari Ltabel pada taraf signifikan 1%, jadi data yang diperoleh dari hasil penelitian ini secara keseluruhan berasal dari populasi berdistribusi normal. Sedangkan pada uji prasyarat analisis yaitu uji homogenitas dengan menggunakan uji Bartlet, di dapat : (1) Pada sumber variasi Jenis Sistem Pengapian CDI (Baris), X2obs = 2,50 < X2tabel = 6,63, (2) Pada sumber variasi Jenis Bensin (Kolom), X2obs = 2,05 < X2tabel = 9,21, jadi dapat disimpulkan bahwa semua X2obs lebih kecil dari X2tabel pada taraf signifikan 1%, sehingga kedua sumber (baris dan kolom) berasal dari populasi homogen. Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa : (1) Ada perbedaan pengaruh yang signifikan antara jenis sistem pengapian CDI terhadap kadar karbon monoksida (CO) gas buang pada sepeda motor Honda Supra tahun 2003. Hal ini ditunjukkan pada hasil uji F untuk anava dua jalan di mana Fobs = 1152,35 dan Ftabel = 7,82, sehingga Fobservasi > Ftabel pada taraf signifikan 1%. (2) Ada perbedaan pengaruh yang signifikan antara jenis bensin terhadap kadar karbon monoksida (CO) gas buang pada sepeda motor Honda Supra tahun 2003. Hal ini ditunjukkan pada hasil uji F untuk anava dua jalan di mana Fobs = 374,54 dan Ftabel = 5,61, sehingga Fobservasi > Ftabel pada taraf signifikan 1%. (3) Ada perbedaan pengaruh bersama (interaksi) antara jenis sistem pengapian CDI dan jenis bensin terhadap kadar karbon monoksida (CO) gas buang pada sepeda motor Honda Supra tahun 2003. Hal ini ditunjukkan pada hasil uji F untuk anava dua jalan di mana Fobs = 118,97 dan Ftabel = 5,61, sehingga Fobservasi > Ftabel pada taraf signifikan 1%. Jadi kesimpulannya, semua Fobservasi dari penelitian ini mempunyai harga lebih besar dari Ftabel, maka dapat disimpulkan bahwa ada pengaruh dari masing-masing perlakuan. Setelah dilakukan penelitian, menunjukkan bahwa kadar karbon monoksida (CO) gas buang yang paling rendah adalah pada jenis sistem pengapian DC-CDI, yaitu dengan rata-rata kadar karbon monoksida (CO) gas buang sebesar 0,70 % volume, dan kadar karbon monoksida (CO) gas buang yang paling tinggi yaitu pada jenis sistem pengapian AC-CDI, yaitu dengan rata-rata kadar karbon monoksida (CO) gas buang sebesar 0,74% volume. Untuk jenis bensin menunjukkan bahwa kadar karbon monoksida (CO) gas buang yang paling rendah adalah pada jenis bensin pertamax plus, yaitu dengan rata-rata kadar karbon monoksida (CO) gas buang sebesar 0,64 % volume, dan kadar karbon monoksida (CO) gas buang yang paling tinggi yaitu pada jenis bensin premium, dengan rata-rata kadar karbon monoksida (CO) gas buang sebesar 0,82 % volume.
File Dokumen : abstrak.pdf
Harus menjadi member dan login terlebih dahulu untuk bisa download.
SULARTO.pdf
File Jurnal : -
Status : Public
Pembimbing : 1. Drs C. Sudibyo, M.T.
2. Drs. Ranto, HS, M.T.
Catatan Umum : 100/204
Fakultas : Fak. KIP