ANALISIS KINERJA BANK UMUM SYARIAH DAN KONVENSIONAL DI INDONESIA ( STUDI KASUS PADA 14 BANK UMUM DENGAN KINERJA KEUANGAN SANGAT BAGUS PADA ASET 1-10 TRILIUN TAHUN 2003)
Oleh :
Maysun

Tujuan dari penelitian ini adalah pertama, untuk mengetahui bagaimana kinerja yang ditunjukkan dengan efisiensi pada masing-masing bank yang memiliki kinerja keuangan sangat bagus pada aset 1-10 triliun tahun 2003 baik bank umum syariah dengan prinsip syariah maupun bank umum konvensional dengan prinsip bunga. Kedua, untuk mengetahui apa yang menjadi sumber sumber inefisiensi pada masing-masing bank dan bagaimana cara mengatasinya. Ketiga, untuk mengetahui bagaimana kinerja yang ditunjukkan dengan efisiensi bank-bank umum syariah dengan prinsip syariah dibandingkan dengan bank umum konvensional dengan prinsip bunga.

Latar Belakang penelitian ini adalah perkembangan perbankan yang pesat yang pernah terjadi di Indonesia, terpuruk di masa krisis karena adanya inefisiensi yang telah menurunkan kinerja perbankan kita yang di dominasi bank-bank konvensional. Namun demikian ditengah krisis tersebut ada fenomena menarik bahwa bank syariah dengan prinsip syariah mampu tetap eksis, dan sejak saat itulah bank syariah di Indonesia mulai berkembang pesat. Dengan belajar dari krisis yang pernah terjadi perkembangan yang pesat tersebut jangan sampai menjadi buah simalakama yang dapat merusak industri perbankan kita. Hal itu berarti bank syariah harus mampu bersaing dengan perbankan konvensional dari sisi kinerjanya. Selama ini kinerja diukur dari rasio financial namun hal itu terkadang kurang memberikan informasi riil mengenai kinerja perusahaan, oleh karena itu penelitian ini mencoba menganalisis kinerja bank umum syariah dan konvensional di Indonesia dari efisiensi teknisnya.

Penelitian ini merupakan analisis data sekunder yang berupa data tahun 2003. Metode yang digunakan untuk meneliti kinerja 14 Bank Umum Dengan Kinerja Keuangan Sangat Bagus Pada Aset 1-10 Triliun tahun 2003 adalah Data Envelopment Analysis (DEA). DEA menggunakan multi input dan multi output untuk menjelaskan kinerja bank secara riil sehingga dapat dilakukan kebijakan koreksi yang digunakan untuk meningkatkan kualitas kinerja bank.

Hasil analisis menunjukkan bahwa dari 14 Bank Umum yang diteliti hanya 7 Bank yang mempunyai kinerja yang baik dari sisi efisiensi teknisnya yaitu Bank Muamalat Indonesia, Bank Mestika, Bank Bumi Putera, Bank Eksekutif, Bank Agro Niaga, Bank Nusantara Parahyangan, dan Bank Ekonomi Raharja yang ditunjukkan nilai efisiensi yang mencapai angka 100%. Bank yang inefisien dalam proses produksinya adalah Bank Syariah Mandiri dengan tingkat efisiensinya baru mencapai 83,58%; Bank Artha Niaga Kencana sebesar 79,15%; Bank Yudha Bhakti 73,96%; Bank Maspion 71,40%; Bank Bumi Artha 67,11%; Bank BTPN 49,72%; dan efisiensi terendah pada Bank Danpac yaitu sebesar 46,87% atau terjadi inefisiensi sebesar 53,13%.

Sumber inefisiensi yang terjadi menurut hasil analisis DEA pada umumnya berasal dari input-input yang digunakan yaitu modal, jumlah tenaga kerja, jumlah kantor bank, dan beban operasional terkecuali untuk bank Bumi Artha inefisiensi juga terjadi pada outputnya yang berupa pembiayaan. Alternatif yang di tawarkan DEA untuk bank-bank tersebut menjadi efisien dengan memperbaiki kualitas input dan outputnya yang dapat dilakukan dengan berorientasi pada input atau seberapa besar input diperbaiki untuk mencapai output sesuai observasi, berorientasi pada output dalam arti seberapa besar output diperbaiki dengan menggunakan input sesuai observasi dan mengacu pada bencmark-nya. Untuk perbandingan bank-bank umum syariah dan bank-bank umum konvensional kelompok bank umum syariah kinerjanya yang dicerminkan dengan efisiensi lebih baik dari pada kelompok bank umum konvensional. Hal itu terlihat dari nilai mean-nya sebesar 91,79% untuk kelompok bank umum syariah dan 82,35% untuk kelompok bank umum konvensional.

Dari hasil analisis tersebut diajukan beberapa saran; pertama, untuk bank-bank yang efisien hendaknya tetap mempertahankan efisiensinya, dengan jalan peningkatan kualitas sumber daya, pelayanan yang baik dan penerapan teknologi yang bersaing. Kedua, untuk menjadi efisien bank-bank yang belum efisien hendaknya memperbaiki produktifitas input-inputnya untuk mencapai output optimum dan kondisi efisien. Ketiga, melihat efisiensi kelompok bank syariah yang lebih baik daripada bank konvensiol maka sudah selayaknya bagi pemerintah untuk lebih memberikan perhatian besar bagi pengembangan bank syariah di Indonesia. Hal itu dapat dilakukan dengan perbaikan peraturan yang ada dan penerapan prinsip kehati-hatian agar perkembangan bank syariah ke depan tidak menjadi buah simalakama yang justru akan menghancurkan struktur perbankan kita. Keempat, dengan keunggulan yang diberikan DEA untuk melihat efisiensi teknis hendaknya ke depan pengukuran kinerja dengan menggunakan efisiensi teknis dapat dijadikan sebagai dasar penilaian kinerja perbankan selain kinerja financial karena efisiensi teknis lebih menunjukkan keadaan riil perusahaan. Kelima, dengan melihat keterbatasan yang ada penerapan metode DEA dalam dunia perbankan masih memerlukan adanya penyempurnaan model, baik karena adanya faktor lingkungan ataupun adanya nilai batasan-batasan yang diberikan. Oleh karena itu DEA ke depan juga perlu dilengkapi dengan alat analisis yang bersifat kualitatif untuk mendapatkan gambaran lengkap mengenai faktor lingkungan yang lain.

Links

News

About

Perpustakaan Digital adalah sebuah sistem yang memiliki berbagai layanan dan obyek informasi yang mendukung akses obyek informasi melalui perangkat digital.