Abstrak


Strategi Pengembangan Ekowisata Untuk Mendukung Implementasi Smart City Di Tebet Eco Park, Jakarta Selatan


Oleh :
Alya Adysti Revalitha - M0822005 - Fak. MIPA

Pertumbuhan kawasan perkotaan yang pesat mendorong kebutuhan akan ruang terbuka hijau yang tidak hanya berfungsi ekologis, tetapi juga mampu mendukung konsep smart city melalui pendekatan ekowisata. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kondisi komponen 4A (Attraction, Accessibility, Amenity, dan Ancillary) dalam mendukung pengembangan ekowisata di Tebet Eco Park, Jakarta Selatan, serta merumuskan strategi pengembangan ekowisata yang selaras dengan implementasi smart city. Penelitian menggunakan metode campuran (mixed methods) dengan instrumen kuesioner kepada 106 responden untuk analisis komponen 4A, serta wawancara mendalam dengan pihak pengelola untuk penyusunan analisis SWOT melalui matriks IFAS dan EFAS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa komponen Attraction memperoleh nilai persentase sebesar 84,02% (sangat baik), Accessibility sebesar 85,23% (sangat baik), Amenity sebesar 84,27% (sangat baik), dan Ancillary sebesar 82,60% (sangat baik). Berdasarkan hasil analisis IFAS dan EFAS, Tebet Eco Park berada pada posisi Kuadran I diagram SWOT dengan koordinat (X = 1,21; Y = 1,21), yang mengindikasikan bahwa kawasan ini memiliki kekuatan dan peluang yang dominan sehingga strategi prioritas yang direkomendasikan adalah Strategi SO (Strength-Opportunity). Strategi tersebut meliputi pengoptimalan teknologi ramah lingkungan dan sistem informasi digital untuk promosi ekowisata, pengembangan program wisata edukatif berbasis konservasi melalui pemanfaatan zona interaktif, serta penguatan kerja sama antara pengelola, pemerintah, dan komunitas lingkungan dalam pengelolaan ruang terbuka hijau berbasis keberlanjutan. Penelitian ini berkontribusi dalam menyediakan kerangka strategis pengembangan ekowisata perkotaan yang mengintegrasikan pendekatan 4A dengan prinsip smart city, sehingga dapat menjadi rujukan bagi pengelola, pemerintah daerah, maupun peneliti dalam merancang tata kelola ruang terbuka hijau yang berkelanjutan, inklusif, dan berbasis teknologi.