Abstrak


BERTAHAN DI TENGAH GELOMBANG KRISIS: STRATEGI ADAPTASI MASYARAKAT BUMIPUTRA GEMEENTE SEMARANG 1929-1935


Oleh :
Ahmad Dhani Setiawan - B0422004 - Fak. Ilmu Budaya

Depresi Besar atau Zaman Malaise pada dekade 1930-an merupakan krisis ekonomi global yang memberikan dampak signifikan terhadap tatanan sosio-ekonomi di wilayah koloni Hindia Belanda. Gemeente Semarang, sebagai pusat ekonomi yang mengandalkan sektor pelabuhan, transportasi darat, dan perdagangan, mengalami guncangan struktural drastis akibat fluktuasi pasar internasional. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) menganalisis mekanisme keruntuhan pilar ekonomi Gemeente Semarang akibat transmisi krisis global; (2) mengkaji dampak krisis Malaise terhadap kondisi ekonomi kaum proletar urban dan masyarakat Bumiputra; serta (3) menelusuri strategi adaptasi dan mekanisme pertahanan sosio-ekonomi masyarakat Bumiputra di Gemeente Semarang pada periode krisis tahun 1929-1935. Penelitian ini menggunakan metode sejarah yang terdiri dari lima tahapan: pemilihan topik, heuristik, kritik sumber, interpretasi, dan penulisan. Sumber primer yang digunakan meliputi laporan resmi Memorie van Overgave (MVO), statistik tahunan Indisch Verslag, penelitian sezaman, pemberitaan surat kabar sezaman, serta dokumentasi visual dari koleksi KITLV. Analisis dilakukan dengan menempatkan peristiwa makroekonomi kolonial sebagai konteks untuk membedah realitas keseharian dan daya juang masyarakat di tingkat bawah. Hasil penelitian menunjukkan tiga temuan utama terkait dinamika krisis di Gemeente Semarang. Pertama, transmisi krisis global terbukti meruntuhkan pilar ekonomi makro Gemeente Semarang, yang terindikasi dari penyusutan volume ekspor-impor hingga melampaui 50% pada kurun waktu 1929-1935. Kedua, kedalaman krisis mempercepat ancaman gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) pada sektor transportasi dan industri. Ketiga, di tengah disfungsi struktur ekonomi formal, masyarakat Bumiputra memanifestasikan resiliensi melalui serangkaian strategi adaptasi, seperti ekspansi sektor informal sebagai katup penyelamat (safety valve), reorientasi pola konsumsi ke komoditas murah, optimalisasi lahan subsisten, serta artikulasi solidaritas komunal. Simpulan penelitian menunjukkan bahwa krisis Malaise tidak hanya menyebabkan kemunduran sektor-sektor ekonomi utama di Gemeente Semarang, tetapi juga mengungkap kerentanan struktur ekonomi kolonial yang bergantung pada dinamika pasar global. Dampaknya dirasakan langsung oleh masyarakat Bumiputra melalui meningkatnya pengangguran, menurunnya pendapatan, dan melemahnya daya beli akibat terbatasnya perlindungan sosial dari pemerintah kolonial. Dalam kondisi tersebut, masyarakat Bumiputra Gemeente Semarang mengembangkan berbagai strategi adaptasi melalui pemanfaatan sumber daya lokal dan solidaritas komunal untuk mempertahankan keberlangsungan hidup. Temuan ini menunjukkan bahwa krisis di Gemeente Semarang mencerminkan kerentanan sistem ekonomi kolonial sekaligus kapasitas adaptif masyarakat lokal dalam menghadapi tekanan ekonomi.