Abstrak
PERKEMBANGAN GAYA BUSANA MASYARAKAT TIONGHOA-PERANAKAN DI BATAVIA TAHUN 1910-1942
Oleh :
Chintya Kusuma Dewi - B0422018 - Fak. Ilmu Budaya
Penelitian ini
berjudul Perkembangan Gaya Busana Masyarakat Tionghoa-Peranakan di Batavia
tahun 1910-1942. Tujuan penelitian ini adalah untuk menjelaskan: (1) Proses
terbentuknya masyarakat Tionghoa Peranakan di Batavia, (2) Perkembangan busana
masyarakat Tionghoa Peranakan di Batavia tahun 1910-1920, (3) Perkembangan
busana masyarakat Tionghoa Peranakan di Batavia tahun 1920-1942. Metode penelitian
yang digunakan terdiri dari lima tahapan yaitu pemilihan topik, heuristik
(penelusuran dan pengumpulan sumber atau data), verifikasi (pengujian sumber
baik ekstern maupun intern), interpretasi (penafsiran sumber) dan penulisan.
Sumber penelitian berasal dari arsip dokumen seperti, Plakaatboek
tanggal 21 Juni 1658, 22 Maret 1683, 21 Juli 1701 serta Staatsblad 1910
No. 55, Wet op het Nederlandsche Onderdaanschap. Juga arsip
visual koleksi Koninklijk Instituut voor Taal, Land, en Volkenkunde (KITLV)
dan Nationaal Museum van Wereldculturen (NMVW). Penelitian ini juga
menggunakan surat kabar Sin Po serta literatur yang berkaitan dengan
masyarakat Tionghoa Peranakan di Batavia.Hasil penelitian
menunjukkan, bahwa proses terbentuknya masyarakat Tionghoa Peranakan di Batavia
terjadi setelah masuknya imigran Tiongkok sebagai tenaga kerja VOC. Masyarakat
Tionghoa Peranakan di Batavia harus menggunakan busana khas Tiongkok
berdasarkan peraturan yang dikeluarkan oleh VOC. Menjelang tahun 1910 hingga
1920 akibat adanya gerakan Tionghoa yang menyebarkan pemahaman tentang
nasionalisme terhadap Negara Tiongkok, membuat adanya perubahan dalam gaya
busana laki-laki yang mengadopsi busana bergaya Eropa. Memasuki tahun 1920 gaya
busana laki-laki semakin mengalami perkembangan dan busana perempuan menunjukkan
adanya berbagai akulturasi budaya, antara lokal, Tionghoa dan Eropa.
Berdasarkan hasil
penelitian ini dapat disimpulkan bahwa terbentuknya masyarakat Tionghoa
Peranakan di Batavia adalah melalui perkawinan campur antara laki-laki Tionghoa
dan perempuan pribumi. Pada 1910-1920 terjadi perubahan pada gaya busana
laki-laki dari busana tradisional khas Tiongkok berupa baju twikim dan celana
komprang menjadi busana bergaya Eropa, celana pantalon, dan jas tutup.
Sedangkan, busana perempuan tidak mengalami perubahan karena masih menggunakan
baju kurung dan baju panjang. Pada 1920-1942 perubahan busana masyarakat
Tionghoa Peranakan mengalami adanya akulturasi antara kebudayaan lokal,
Tionghoa, dan Eropa dalam busana perempuan berupa kebaya dan baju bergaya
Shanghai. Sedangkan busana laki-laki mengalami perkembangan dengan adanya jas
terbuka dan dasi.