Abstrak
STRATEGI PENGUATAN RESILIENSI MASYARAKAT MELALUI PROGRAM PEMBERDAYAAN KELURAHAN BERSIH DARI NARKOBA (BERSINAR) (STUDI KASUS DI KELURAHAN MOJOSONGO)
Oleh :
Rahul Muhammad Nuryani - D0322097 - Fak. ISIP
Peredaran dan
penyalahgunaan narkotika hingga saat ini menjadi permasalahan serius yang
mengancam kehidupan masyarakat, hal ini ditandai dengan angka penyalahgunaan
yang terus meningkat. Untuk mengatasi penyalahgunaan narkotika, serta mendorong
proses rehabilitasi penyalahguna narkotika, dibentuklah program Kelurahan Bersih
dari Narkoba oleh Badan Narkotika Nasional Kota Surakarta yang bertujuan untuk
menjalankan program pencegahan, pemberantasan, penyalahgunaan narkotika pada
lingkup Kelurahan atau setingkat kelurahan. Tujuan penelitian ini untuk
mengetahui strategi penguatan resiliensi masyarakat melalui program
pemberdayaan Kelurahan Bersih dari Narkoba. Penelitian ini menggunakan metode
kualitatif dengan pendekatan studi kasus dan dianalisis melalui kerangka teori
struktural fungsional Talcott Parsons (1977). Teknik pemilihan informan yang
digunakan adalah snowball sampling. Pengumpulan data dilakukan melalui
wawancara, dokumentasi serta observasi, kemudian dianalisis menggunakan teknik
analisis data studi kasus. Untuk memeriksa keabsahan data yang sudah
dikumpulkan, maka dilakukan uji validitas data melalui triangulasi sumber. Hasil
penelitian ini menunjukkan bahwa sebelum terbentuk sebagai Kelurahan Bersih
dari Narkoba, Kelurahan Mojosongo mengalami kerentanan di tengah peredaran dan
penyalahgunaan narkotika. Untuk melihat resiliensi masyarakat dapat dilihat
melalui teori struktural fungsional. Adaptation ditunjukkan pada
partisipasi berbagai stakeholder di masyarakat dalam satgas untuk melakukan
pemberantasan penyalahgunaan narkotika dan melakukan pendampingan rehabilitasi.
Goal attainment mengacu pada tujuan pembentukan program pemberdayaan
ini, yakni menekan angka penyalahgunaan narkotika, membentuk komunitas yang
kuat, mandiri dan memperkuat resiliensi masyarakat di tengah peredaran dan
penyalahgunaan narkotika. Integration ditunjukkan dengan kemampuan dari
berbagai stakeholder yang berkolaborasi dan bekerja sama untuk mencapai tujuan-tujuan
yang sudah ditentukan. Latency ditunjukkan dengan kesadaran, dedikasi
dari satgas Intervensi Berbasis Masyarakat (IBM), seksi keamanan dan masyarakat
dalam mempertahankan pola-pola adaptasi yang sudah terbentuk. Faktor pendorong
berjalannya program ini ditunjukkan oleh adanya kesadaran, semangat belajar dan
adaptasi dari berbagai pihak. faktor penghambat ditunjukkan pada masih adanya
stigma, letak kelurahan yang berbatasan dengan wilayah lain, anggaran dana yang
terbatas.