Pekerja jasa konstruksi merupakan salah satu kelompok pekerja yang memiliki risiko kecelakaan kerja cukup tinggi sehingga memerlukan perlindungan melalui program jaminan sosial ketenagakerjaan. Namun, partisipasi kepesertaan jasa konstruksi pada BPJS Ketenagakerjaan masih menghadapi berbagai tantangan sehingga pertumbuhan kepesertaan belum sepenuhnya stabil. Kondisi tersebut menunjukkan perlunya strategi pemasaran yang tepat untuk meningkatkan partisipasi kepesertaan jasa konstruksi. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan implementasi strategi pemasaran dalam meningkatkan partisipasi kepesertaan jasa konstruksi serta mengidentifikasi kendala yang dihadapi oleh BPJS Ketenagakerjaan Kantor Cabang Klaten.
Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif kualitatif. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui wawancara semi terstruktur, observasi nonpartisipan, dan dokumentasi. Analisis data dilakukan melalui tahap pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa implementasi strategi pemasaran dilakukan melalui pendekatan segmenting, targeting, positioning (STP) dan bauran pemasaran jasa (7P). Segmentasi kepesertaan dibagi menjadi Penerima Upah (PU), Bukan Penerima Upah (BPU), Pekerja Migran Indonesia (PMI), dan Jasa Konstruksi (Jakon). Target pemasaran difokuskan pada pelaksana proyek kontruksi yang mempekerjakan tenaga kerja konstruksi yang berada di wilayah Kabupaten Klaten. Positioning yang dibangun adalah sebagai penyelenggara jaminan sosial ketenagakerjaan yang memberikan perlindungan dengan iuran yang relatif terjangkau. Implementasi bauran pemasaran jasa dilakukan melalui penyediaan produk perlindungan Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK) dan Jaminan Kematian (JKM), penetapan iuran berdasarkan nilai kontrak proyek, kemudahan akses layanan, kegiatan promosi, peran Account Representative dalam pelayanan kepesertaan jasa konstruksi, proses pelayanan terstruktur, dan bukti fisik berupa spanduk kepesertaan. Adapun kendala yang dihadapi meliputi periklanan yang masih terbatas pada media brosur dan belum didukung oleh penggunaan media sosial regional dan belum diterapkannya promosi penjualan (sales promotion) secara khusus.