Abstrak
Kajian Toughness dan Pola Retak Balok Beton Geopolimer dan Beton Normal dengan a/d = 3
Oleh :
Rania Kaulika Handoko - I0122158 - Fak. Teknik
Kebutuhan industri konstruksi akan material ramah lingkungan mendorong
perkembangan teknologi beton geopolimer berbasis fly ash sebagai alternatif
pengganti beton normal semen Portland (OPC) yang menyumbang emisi CO₂
masif. Beton geopolimer mengeliminasi penggunaan semen secara total dengan
memanfaatkan material anorganik kaya silika dan alumina yang diaktifkan
menggunakan larutan alkali aktivator. Meskipun karakteristik mekanisnya telah
banyak diteliti, pemahaman mengenai perilaku keruntuhan geser khususnya
toughness dan pola retak pada elemen balok tanpa tulangan sengkang masih
terbatas. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan membandingkan secara
eksperimental nilai toughness dan pola retak antara balok beton geopolimer dan
beton normal tanpa tulangan geser pada rasio a/d = 3.
Metode penelitian menggunakan pengujian eksperimental four-point loading
hingga keruntuhan. Pengujian dilakukan pada struktur balok berdimensi 150 mm x
200 mm x 1800 mm tanpa sengkang berumur 28 hari dengan rasio bentang geser
terhadap tinggi efektif (shear span-to-depth ratio, a/d) sebesar 3. Parameter yang
diamati meliputi kuat tekan, kapasitas geser ultimit, toughness, pola retak, dan
hubungan beban-lendutan. Hasil pengujian dianalisis secara komparatif untuk
mengevaluasi potensi penggunaan beton geopolimer sebagai alternatif beton
normal yang lebih ramah lingkungan.
Hasil pengujian menunjukkan pengaruh beban terhadap lendutan yang cenderung
mirip, dimana kedua grafik sama-sama menunjukkan penambahan nilai lendutan
yang cenderung proporsional seiring meningkatnya pembebanan. Dari analisis
kuantitatif luasan kurva, balok beton normal menyajikan nilai toughness 28% lebih
tinggi dibandingkan balok geopolimer, yang menunjukkan kapasitas daktilitas
struktural yang lebih unggul. Walaupun demikian, evaluasi visual pola propagasi
retak mengonfirmasi bahwa kedua jenis balok mengalami keruntuhan geser dengan
modus kegagalan berupa beam action dengan sudut kemiringan retak kurang dari
45°. Distribusi retak miring yang menyebar merata pada badan balok membuktikan
bahwa beton geopolimer tetap memiliki kapabilitas penyaluran energi yang
kompetitif bagi keamanan struktur pasca-retak utama.