;

Abstrak


PERBEDAAN KADAR VASCULAR ENDOTHELIAL GROWTH FACTOR (VEGF) SERUM PADA ENDOMETRIOSIS REKURENS DAN NON-REKURENS POST TINDAKAN OPERASI DAN TERAPI HORMONAL


Oleh :
Sarah Monica S - S582202006 - Fak. Kedokteran

Latar Belakang: Endometriosis adalah penyakit pada wanita usia reproduksi dengan pertumbuhan jaringan menyerupai endometrium di luar uterus. VEGF merupakan faktor kunci dalam angiogenesis yang berperan dalam patogenesis dan risiko kekambuhan endometriosis, terutama setelah terapi hormonal. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi perbedaan kadar VEGF pada pasien endometriosis rekurens dan non-rekurens setelah terapi hormonal, serta menentukan peran VEGF sebagai indikator keberhasilan terapi. Metode: Penelitian ini merupakan studi observasional analitik retrospektif yang melibatkan 62 pasien wanita dewasa dengan endometriosis di RSUD Dr. Moewardi Surakarta. Subjek penelitian dipilih berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi, termasuk pasien yang telah menjalani operasi endometriosis (seperti kistektomi, ablasi/eksisi, salpingooforektomi, atau histerektomi) serta terapi hormonal minimal tiga bulan. Kadar VEGF diukur menggunakan metode ELISA manual dari sampel plasma darah yang disimpan pada suhu -80°C. Data demografis, jenis tindakan operatif, dan terapi hormonal dianalisis menggunakan software SPSS 29.0. Analisis bivariat dilakukan dengan uji Mann-Whitney U atau independent T-test tergantung distribusi data, sedangkan analisis ROC digunakan untuk menentukan nilai cut-off VEGF sebagai prediktor risiko rekurensi. Semua uji statistik dinilai signifikan pada p<0,05.Hasil: Kadar VEGF pada kelompok rekurens (149,50 pg/ml) secara signifikan lebih tinggi dibandingkan kelompok non-rekurens (21,00 pg/ml) dengan nilai p<0,001. Analisis ROC menunjukkan nilai cut-off VEGF sebesar 86,50 pg/ml, dengan sensitivitas dan spesifisitas masing-masing 100%. Jenis tindakan operatif dan durasi terapi hormonal juga ditemukan berkontribusi terhadap risiko rekurensi.Kesimpulan: Kadar VEGF dapat digunakan sebagai biomarker yang akurat untuk memprediksi risiko rekurensi pada pasien endometriosis setelah terapi hormonal.