Rohima Tazkiyah Rosyida. K8422075. Pembimbing: Yosafat Hermawan Trinugraha, S.Sos., M.A., Ph.D. PEMBERDAYAAN MASYARAKAT MELALUI PENGEMBANGAN USAHA KREATIF BATOK KELAPA DAN BATIK TULIS KHAS SANGIRAN DI DESA BUKURAN KABUPATEN SRAGEN. Tugas Akhir, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta, Juni 2026.
Penelitian ini bertujuan untuk (1) mengetahui latar belakang dilaksanakannya program pemberdayaan masyarakat di Desa Bukuran melalui pengembangan kerajinan batok kelapa dan batik tulis khas Sangiran, dan (2) mengetahui proses pemberdayaan masyarakat yang dilakukan Pemerintah Desa Bukuran dalam mengembangkan kedua aktivitas kerajinan tersebut. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif jenis studi kasus dengan sumber data meliputi perangkat desa, pengrajin batok kelapa, pembatik, dan Ketua RT, serta dokumen pendukung berupa foto dan catatan kegiatan. Informan ditentukan melalui purposive sampling, data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi partisipasi, dan dokumentasi. Validitas data dijaga melalui triangulasi sumber dan triangulasi teknik, sementara analisis data menggunakan model analisis interaktif Miles dan Huberman yang meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan.Hasil penelitian ini adalah sebagai berikut. Pertama, latar belakang dilaksanakannya program pemberdayaan masyarakat di Desa Bukuran bersumber dari tiga kondisi utama, yaitu keterbatasan ekonomi masyarakat yang mayoritas bergantung pada sektor pertanian musiman dengan pendapatan tidak stabil, adanya potensi lokal berupa keterampilan membatik dan kedekatan wilayah dengan kawasan wisata Sangiran yang belum dimanfaatkan secara optimal, serta adanya dorongan dari pihak eksternal yang mendorong warga untuk mengembangkan batik tulis sebagai produk khas kawasan Sangiran. Kedua, proses pemberdayaan masyarakat di Desa Bukuran dianalisis menggunakan kerangka teori pengembangan masyarakat Ife dan Tesoriero (2008) yang mencakup empat aspek yaitu pemberian sumber daya yang diwujudkan melalui bantuan mesin produksi, pembangunan Griya Batik Bukur Kencana, dan peran BUMDes sebagai penghubung; pemberian kesempatan yang diwujudkan melalui keterbukaan kelompok usaha bagi warga yang berminat serta terbukanya kesempatan masyarakat Desa untuk menyalurkan pengetahuan membatik kepada pihak luar; pemberian pengetahuan melalui program pelatihan Disnaker dan pemahaman nilai budaya kawasan Sangiran; serta pemberian keterampilan melalui sistem tutor sebaya dan praktik langsung di tempat produksi. Ketiga, proses pemberdayaan juga mencerminkan tiga prinsip pengembangan masyarakat yaitu kekuatan lokal yang bertumpu pada keterampilan dan identitas budaya kawasan Sangiran, partisipasi masyarakat yang berlangsung secara fleksibel, serta keberlanjutan sosial dan ekologis yang terwujud melalui pemanfaatan limbah batok kelapa dan pelestarian motif batik khas Sangiran sebagai warisan budaya lokal.