;
Zulfa Nadia. Analisis Faktor Risiko Gangguan Postur Tulang
Belakang pada Anak Usia Sekolah
Dasar. Tesis. Pembimbing I: Dr. dr. Annang Giri Moelyo, Sp.A., Subsp.Endo(K).,
M.Kes. Pembimbing II: Dr. Revi Gama Hatta Novika, SST., Bdn., M.Kes. Program
Studi S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat, Minat Utama Kesehatan Ibu dan Anak, Fakultas Kedokteran, Universitas Sebelas Maret Surakarta.
Subjek dan Metode Penelitian potong lintang (cross-sectional)
dilakukan di Sekolah Dasar Islam Terpadu di Bekasi, Indonesia. Sebanyak 240
siswa berusia 9–12 tahun diikutsertakan melalui teknik total sampling. Variabel
dependen adalah gangguan postur tulang belakang (kifosis dan/atau lordosis),
yang dinilai menggunakan Occiput Wall
Distance dan Lumbar Wall Distance.
Variabel independen meliputi waktu penggunaan layar, aktivitas fisik, ergonomi
belajar, dan status gizi (skor-z IMT menurut usia, WHO AnthroPlus). Analisis
data dilakukan dengan uji chi-square, korelasi Spearman, regresi logistik
multivariabel, dan analisis jalur (Structural
Equation Modeling-Maximum Likelihood/SEM-ML).
Hasil Prevalensi gangguan postur tulang belakang
sebesar 77,5% (kifosis
55,8%; lordosis 63,3%;
keduanya bersamaan 44,2%). Screen time tinggi
(>2 jam/hari) ditemukan pada 87,5% siswa (rerata 4,90±2,10 jam/hari), 61,7% tidak aktif
fisik, dan 67,5%
berstatus gizi abnormal.
Analisis multivariabel mengidentifikasi IMT (AOR=1,12; 95% CI=1,04–1,21;
p=0,002), screen time tinggi
(AOR=2,18; 95% CI=1,03–4,61; p=0,041), dan inaktivitas fisik (AOR=2,61; 95%
CI=1,27–5,35; p=0,009) sebagai prediktor independen. Obesitas menunjukkan
asosiasi bivariat terkuat (OR=3,80; 95% CI=1,80–8,10; p<0 total=0,384; CFI=1,00; RMSEA=0,00) z=2,34; p=0,019)>screen time (Sobel
z=2,50; p=0,012).
Simpulan Prevalensi gangguan postur tulang belakang tergolong tinggi (77,5%). IMT, screen time, aktivitas fisik, dan ergonomi belajar terbukti berhubungan signifikan, dengan IMT sebagai determinan dominan dan aktivitas fisik sebagai mediator parsial. Manajemen berat badan, pembatasan screen time, perbaikan ergonomi belajar, dan peningkatan aktivitas fisik diperlukan sebagai pencegahan.