Abstrak
Pengaruh Pemberian Ekstrak Biji Pinang (Areca Catechu L.) terhadap Kondisi Epididimis dan Spermatozoa Tikus Fertil
Oleh :
Ave Olivia Rahman - T502108005 - Fak. Kedokteran
Latar belakang: Kebutuhan kontrasepsi laki-laki nonhormonal yang reversibel sebagai metode pengendalian fertilitas belum terpenuhi. Biji pinang (Areca catechu L.) dilaporkan memiliki efek antifertilitas melalui penurunan motilitas spermatozoa dan gangguan spermatogenesis, namun pengaruh durasi pemberiannya terhadap struktur dan fungsi epididimis masih belum banyak diteliti.Tujuan: Menjelaskan pengaruh durasi pemberian ekstrak etanol biji pinang (EEBP) dosis 50 mg/kgBB terhadap kualitas spermatozoa, jaringan epididimis, dan kemungkinan keterlibatan jalur stres oksidatif (malondialdehyde (MDA)/Nuclear Factor Erythroid 2-Related Factor 2 (Nrf2)).Metode: Penelitian eksperimental dengan desain post-test only with control group menggunakan 20 tikus Wistar jantan fertil yang dibagi menjadi kelompok kontrol (KK) dan kelompok perlakuan EEBP selama 7 hari (KP1), 14 hari (KP2), dan 28 hari (KP3). Parameter spermatozoa meliputi motilitas, morfologi, dan integritas membran plasma. Struktur jaringan epididimis dan testis dianalisis secara histopatologis. Fungsi epididimis dievaluasi melalui kadar hormon dihidrotestosteron (DHT) dan Cysteine-Rich Secretory Protein 1 (CRISP1). Kadar MDA, Nrf2, DHT, dan CRISP1 diukur menggunakan metode ELISA.Hasil: Persentase motilitas spermatozoa pada KP1, KP2, dan KP3 (50,58±8,69; 35,12±19,92; dan 31,93±4,09) secara bermakna lebih rendah dibandingkan dengan KK (72,82±4,61). Integritas membran plasma spermatozoa serta kadar MDA, Nrf2, DHT, dan CRISP1 tidak berbeda bermakna antara seluruh kelompok perlakuan dan KK. Persentase morfologi spermatozoa pada KP1 dan KP2 tidak berbeda bermakna dibandingkan KK, sedangkan KP3 menunjukkan penurunan morfologi spermatozoa yang bermakna. Histopatologi epididimis dan testis pada KP1 dan KP2 tidak menunjukkan perbedaan bermakna dibandingkan KK, namun pada KP3 ditemukan kerusakan jaringan yang lebih luas.Kesimpulan: Motilitas spermatozoa pada kelompok yang menerima EEBP selama 7 dan 14 hari lebih rendah dibandingkan kelompok kontrol tanpa disertai perubahan bermakna pada morfologi spermatozoa, histopatologi epididimis dan testis maupun kadar DHT, CRISP1, MDA, dan Nrf2. Kerusakan morfologi spermatozoa dan histopatologi jaringan reproduksi lebih nyata setelah pemberian selama 28 hari. EEBP berpotensi dikembangkan sebagai kandidat kontrasepsi laki-laki nonhormonal jangka pendek, meskipun uji reversibilitas, keamanan dan fertilitas aktual masih diperlukan.