Abstrak


Pemetaan Risiko Banjir di Bojonegoro Menggunakan Pemodelan Hidrologi HEC-HMS Berbasis Data Hujan Satelit CHIRPS


Oleh :
Muhammad Haikal Nadhif - I0122123 - Fak. Teknik

Muhammad Haikal Nadhif dan RR. Rintis Hadiani, 2026. Pemetaan Risiko Banjir di Bojonegoro Menggunakan Pemodelan Hidrologi HEC-HMS Berbasis Data Hujan Satelit CHIRPS. Skripsi, Program Studi S-1 Teknik Sipil, Fakultas Teknik Universitas Sebelas Maret Surakarta.Kabupaten Bojonegoro rutin menghadapi ancaman banjir akibat luapan anak sungai saat musim hujan. Peta kebencanaan yang tersedia saat ini, seperti Peta Sebaran Bencana Tahun 2025 dari BPBD Kabupaten Bojonegoro, masih deskriptif dan belum mengintegrasikan pemodelan hidrologi maupun indeks kerentanan wilayah secara kuantitatif. Penelitian ini memetakan risiko banjir pada 28 kecamatan di Kabupaten Bojonegoro melalui integrasi indeks bahaya hasil pemodelan hidrologi dengan indeks kerentanan wilayah, menghasilkan peta risiko yang prediktif, terukur, dan spesifik per kecamatan. Data hujan yang hilang dilengkapi menggunakan HydroImpute, lalu data satelit CHIRPS periode 2004–2024 divalidasi menggunakan aplikasi RainVal berbasis machine learning dan menghasilkan RMSE 11,85–12,19, NSE 0,082–0,198, dan R² 0,082–0,198. Data tervalidasi dimodelkan menggunakan HEC-HMS metode HSS SCS pada 30 DTA untuk menghasilkan debit puncak, waktu puncak, dan volume limpasan pada periode ulang Q2, Q5, Q10, Q20, dan Q50. Indeks bahaya dihitung dari normalisasi ketiga parameter tersebut, sedangkan indeks kerentanan disusun dari parameter fisik, sosial, ekonomi, dan lingkungan berdasarkan data BPS 2025, lalu keduanya diintegrasikan menjadi peta risiko banjir menggunakan QGIS. Hasil analisis menunjukkan DTA Jegong konsisten menghasilkan debit puncak tertinggi, sedangkan DTA Jurangmarong terendah. Tingkat bahaya meningkat seiring periode ulang, dengan 18 kecamatan berkategori tinggi pada Q50. Kecamatan Bojonegoro memiliki indeks kerentanan tertinggi (1,00), diikuti Kanor (0,93) dan Kedungadem (0,90), dan Bojonegoro juga menjadi wilayah risiko banjir tertinggi pada seluruh periode ulang, diikuti Kedungadem yang turut berkategori tinggi pada periode ulang 50 tahun. Peta risiko ini menawarkan basis data hujan satelit tervalidasi, pemodelan hidrologi berbasis periode ulang, serta data kerentanan terkini, sehingga diharapkan menjadi acuan strategis bagi pemerintah daerah dalam mitigasi bencana dan perencanaan tata ruang berbasis risiko di Kabupaten Bojonegoro.