Abstrak


HIERARKI GENDER DAN RELASI INTRA-KOMUNITAS DALAM LGBT (Studi Fenomenologi Pandangan Gay terhadap Transgender di Kota Surakarta)


Oleh :
Reza Mahendra Valentino - D0322102 - Fak. ISIP

Penelitian ini dilatarbelakangi karena adanya pandangan negatif terhadap transgender yang bukan hanya berasal dari masyarakat heteroseksual, tetapi juga dari internal komunitas LGBT itu sendiri. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengkaji pemaknaan dan pemosisian transgender oleh komunitas gay di Surakarta dalam struktur hiearki gender komunitas LGBT berdasarkan pengaruh dimensi internal komunitas LGBT dan dimensi eksternal masyarakat heteronormatif, serta mengkaji relasi intra-komunitas yang terbangun dalam kaitannya dengan pemaknaan dan pemosisian transgender oleh komunitas gay di Surakarta. Penelitian ini menggunakan teori Maskulinitas Hegemonik dari R. W. Connell. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Lokasi penelitian berada di Kota Surakarta. Data diperoleh melalui wawancara mendalam, observasi tidak langsung, dan dokumentasi. Informan dalam penelitian ini meliputi komunitas gay, transgender, dan ketua Komunitas Gaya Mahardhika. Teknik purposive sampling digunakan dalam menentukan informan penelitian. Validitas data yang digunakan adalah triangulasi sumber. Teknik analisis data menggunakan model interaktif dari Miles dan Huberman. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pemosisian transgender oleh komunitas gay di Surakarta mencerminkan adanya hirarki gender yang terbentuk melalui dimensi internal komunitas LGBT seperti persepsi negatif tentang representasi feminitas, preferensi ketertarikan komunitas gay di Surakarta bukan hanya pada tubuh laki-laki, tetapi juga maskulinitas, dan anggapan bahwa transgender berada di luar rumpun LGB. Selain itu, pemosisian tersebut juga terbentuk berdasarkan dimensi eksternal masyarakat heteronormatif seperti internalisasi nilai-nilai patriarki, stigma negatif transgender yang selama ini tumbuh di masyarakat, dan nilai agama, serta dalam penelitian ini juga ditemukan adanya patriarchal dividend pada komunitas gay di Surakarta karena representasi maskulinitasnya. Relasi yang terbangun intra-komunitas LGBT menunjukkan adanya selektivitas oleh komunitas gay di Surakarta saat berelasi dengan transgender yang didasari oleh tujuan relasi, ruang interaksi yang juga bersangkutan dengan representasi transgender, keperibadian personal transgender, dan tingkat kedekatan dengan transgender. Keterlibatan komunitas gay di Surakarta dalam meyikapi isu-isu transgender tidak diwujudkan melalui advokasi yang bersifat publik karena terdapat kekhawatiran terhadap potensi persepsi negatif, tetapi cenderung melalui secara personal. Fokus isu yang disuarakan pun juga lebih kepada orientasi seksual dan hak asasi manusia secara umum dan keterlibatan dalam menyuarakan isu transgender juga ditentukan dari di mana isu tersebut berkembang.