Abstrak


Unsur Intrinsik dan Nilai Pendidikan Karakter dalam Cerita Rakyat Ki Ageng Singoprono Serta Pemanfaatannya Sebagai Penguat Dimensi Keimanan dan Ketakwaan


Oleh :
Jihanita Rindu Astuti - K1222040 - Fak. KIP

Penelitian ini bertujuan untuk (1) menganalisis unsur intrinsik dalam buku Sejarah Ringkas Ki Ageng Singoprono karya Slamet Widodo dan Arvina Alfajri, (2) mengidentifikasi Nilai-Nilai Pendidikan Karakter yang terkandung dalam buku Sejarah Ringkas Ki Ageng Singoprono karya Slamet Widodo dan Arvina Alfajri, (3) mendeskripsikan pemanfaatan buku “Sejarah Ringkas Ki Ageng Singoprono” karya Slamet Widodo dan Arvina Alfajri sebagai materi penguat dimensi keimanan dan ketakwaan di MAN 2 Boyolali. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Sumber data dalam penelitian ini meliputi dokumen  berupa buku Sejarah Ringkas Ki Ageng Singoprono karya Slamet Widodo dan Arvina Alfajri dan informan  berupa 2 guru bahasa Indonesia dan 5 peserta didik kelas X MAN 2 Boyolali. Teknik pengambilan sampel mengunakan teknik purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan dengan mengunakan teknik analisis dokumen dan wawancara terstruktur. Teknik uji validitas yang digunakan adalah teknik uji validitas teori dan sumber. Data dianalisis dengan menggunakan teknik analisis data interaktif Miles dan Huberman, yakni pengumpulam data, reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian ini ditemukan adanya unsur intrinsik yang meliputi tema, alur, tokoh dan penokohan, latar, sudut pandang, serta amanat, di mana kelima unsur tersebut memegang peranan penting agar pesan moral yang terkandung di dalamnya dapat tersampaikan dan dipahami oleh pembaca secara optimal. Di samping itu, ditemukan pula 6 nilai pendidikan karakter yang relevan, di antaranya meliputi sikap religius, toleransi, kerja keras, kepedulian sosial, kejujuran, dan tanggung jawab. Berdasarkan hasil analisis tersebut, buku  Sejarah Ringkas Ki Ageng Singoprono karya Slamet Widodo dan Arvina Alfajri dinilai layak digunakan sebagai penguat dimensi keimanan dan ketakwaan sekaligus sarana pembentukan karakter peserta didik, karena bahasanya yang sederhana memudahkan pemahaman dan internalisasi nilai dalam kehidupan sehari-hari.