Abstrak


Kajian Toughness dan Pola Retak Balok Beton Geopolimer dan Beton Normal dengan a/d = 4


Oleh :
Kanistha Bhanu Mayestiendra Aji - I0122101 - Fak. Teknik

Kanistha Bhanu Mayestiendra Aji, 2026. Kajian Toughness dan Pola Retak Balok Beton Geopolimer dan Beton Normal dengan a/d = 4. Skripsi. Program Studi S1 Teknik Sipil, Fakultas Teknik Universitas Sebelas Maret, Surakarta.Meningkatnya kebutuhan material konstruksi yang ramah lingkungan mendorong pengembangan beton geopolimer berbasis fly ash sebagai alternatif beton semen Portland (Ordinary Portland Cement/OPC). Meskipun telah banyak diteliti dari aspek kuat tekan, penelitian mengenai perilaku geser, khususnya kemampuan penyerapan energi (toughness) dan pola retak balok beton geopolimer tanpa tulangan geser masih terbatas. Penelitian ini bertujuan membandingkan nilai toughness dan pola retak balok beton geopolimer dengan balok beton normal pada rasio bentang geser terhadap tinggi efektif (a/d) sebesar 4.Penelitian dilakukan secara eksperimental menggunakan metode four-point loading hingga balok mengalami keruntuhan. Benda uji berupa balok beton bertulang tanpa sengkang berukuran 150 mm × 200 mm × 1800 mm dengan umur pengujian 28 hari. Parameter yang diamati meliputi hubungan beban–lendutan, kapasitas beban ultimit, nilai toughness, dan pola retak. Nilai toughness dihitung berdasarkan luas daerah di bawah kurva beban–lendutan menggunakan metode integrasi trapesium, sedangkan pola retak dianalisis berdasarkan bentuk, distribusi, propagasi, dan sudut retak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa balok beton normal memiliki kapasitas beban maksimum rata-rata sebesar 35,66 kN dengan lendutan maksimum 7,79 mm, sedangkan balok beton geopolimer sebesar 29,85 kN dengan lendutan maksimum 6,206 mm. Nilai toughness rata-rata balok beton normal sebesar 168,505 kN·mm, sekitar 35,52% lebih tinggi dibandingkan balok beton geopolimer sebesar 114,006 kN·mm, yang menunjukkan kemampuan penyerapan energi yang lebih baik hingga mencapai kondisi keruntuhan. Berdasarkan pola retaknya, kedua jenis balok menunjukkan karakteristik yang relatif serupa dengan perkembangan retak yang bertahap dan distribusi retak yang menyebar. Sudut retak diagonal berada pada kisaran <45°, yang mengindikasikan bahwa perilaku geser kedua balok didominasi oleh mekanisme beam action.