Abstrak
ANALISIS PRODUKSI MAKNA DALAM REPRESENTASI BUDAYA JAWA MELALUI AKUN INSTAGRAM @karatonsurakartahadiningrat
Oleh :
Mayanda Nurfaiza - D0322066 - Fak. ISIP
Perkembangan media sosial telah mendorong institusi budaya untuk melakukan
transformasi digital dalam upaya pelestarian dan penyebarluasan budaya kepada
masyarakat. Representasi budaya yang ditampilkan melalui media sosial tidak hadir
sebagai realitas yang utuh, melainkan sebagai hasil konstruksi makna yang
diproduksi melalui berbagai tahapan institusional. Penelitian ini bertujuan untuk
menganalisis proses produksi makna dalam representasi budaya Jawa yang
dilakukan oleh Keraton Surakarta melalui salah satu akun Instagram resminya,
yakni @karatonsurakartahadiningrat serta mengetahui faktor pendukung dan
penghambat dalam keberlangsungannya. Penelitian ini menggunakan teori
representasi Stuart Hall untuk memahami bagaimana makna pada suatu budaya
diproduksi, dikonstruksi, dan dimaknai melalui media digital. Penelitian kualitatif
dengan pendekatan fenomenologi dipilih sebagai metode dalam penelitian ini.
Penelitian ini menggunakan teknik non-probability yaitu menggunakan teknik
purposive sampling. Data diperoleh melalui wawancara, observasi, dan
dokumentasi terhadap pihak-pihak yang terlibat seperti anggota keluarga keraton,
admin dan validator dari akun Instagram @karatonsurakartahadiningrat, serta
audiens yang terpapar akun tersebut. Data dalam penelitian ini divalidasi
menggunakan triangulasi sumber. Data dianalisis menggunakan model analisis
fenomenologi Moustakas yang meliputi tahapan bracketing, reduksi dan eliminasi,
klasterisasi tema, validasi tema, serta penyusunan Individual Textural Description
(ITD). Hasil penelitian menunjukkan bahwa produksi makna budaya Jawa melalui
akun Instagram @karatonsurakartahadiningrat dilakukan melalui tahapan
perencanaan konten, produksi, validasi, dan publikasi yang melibatkan aktor-aktor
berotoritas di lingkungan Keraton Surakarta Hadiningrat. Representasi budaya
yang ditampilkan merupakan hasil proses seleksi, validasi, dan penyederhanaan
yang mempertimbangkan aspek sakralitas, pakem, serta karakteristik media sosial.
Melalui representasi simbol, narasi, dan visual, akun tersebut mengonstruksi
Keraton Surakarta Hadiningrat sebagai otoritas budaya Jawa, institusi yang adaptif
terhadap perkembangan digital, pusat pelestarian budaya, serta ruang edukasi
budaya.