Abstrak


Implementasi Model Culturally Responsive Transformative Teaching Berbantuan Articulate Storyline untuk Meningkatkan Keterampilan Berpikir Kritis Peserta Didik pada Materi Laju Reaksi


Oleh :
Arinda Lela Dwi Astutik - K3322017 - Fak. KIP

Tujuan penelitian ini untuk menganalisis: (1) implementasi model Culturally Responsive Transformative Teaching (CRTT) berbantuan Articulate Storyline pada materi laju reaksi, (2) respon peserta didik terhadap pembelajaran dengan model Culturally Responsive Transformative Teaching (CRTT) berbantuan Articulate Storyline pada materi laju reaksi, dan (3) perkembangan keterampilan berpikir kritis peserta didik setelah mengikuti pembelajaran dengan model Culturally Responsive Transformative Teaching (CRTT) berbantuan Articulate Storyline pada materi laju reaksi. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif jenis studi kasus berfokus pada pemahaman mendalam terhadap fenomena pembelajaran yang berlangsung. Subjek penelitian merupakan 43 peserta didik kelas XI-6 SMA Batik 1 Surakarta. Data diperoleh melalui observasi, kuesioner Cultural Learning Environment Questionnaire (CLEQ), wawancara, jurnal reflektif, dan tes konsep laju reaksi. Uji keabsahan data dengan triangulasi sumber dan triangulasi teknik. Analisis data menggunakan model analisis Miles dan Huberman yakni reduksi data, penyajian data, serta penarikan kesimpulan dan verifikasi. Temuan penelitian mengungkapkan bahwa sintaks CRTT terimplementasi secara konsisten pada proses pembelajaran dengan respon positif peserta didik sehingga memberikan rata-rata keterampilan berpikir kritis peserta didik sebelum penerapan CRTT 59% sedangkan setelah penerapan CRTT menjadi 78,89% menunjukkan perkembangan sebesar 19,89%. Pada hasil tes konsep laju reaksi menunjukkan 38 dari 43 peserta didik menempati kategori kritis-sangat kritis. Temuan ini menunjukkan bahwa penerapan pembelajaran berbasis budaya (CRTT) pada materi laju reaksi memfasilitasi pengalaman belajar yang autentik dengan mengaitkan materi pembelajaran pada budaya lokal seperti pembuatan tape di acara tradisional dan tradisi pemeraman pisang menggunakan karbit, sehingga peserta didik mampu mengaitkan konsep kimia laju reaksi dengan konteks sosial budaya di lingkungan sekitar.