Abstrak


Kajian Makna Filosofis Lan Resepsi Stuart Hall Tumrap Tradhisi Mujahadah Selapanan Kemis Pahing ing Desa Giyanti Magelang Minangka Materi Pasinaoning Basa Jawa SMP


Oleh :
Emilia Alatas Nur Rahmawati - K4222026 - Fak. KIP

Emilia Alatas Nur Rahmawati. K4222026. Favorita Kurwidaria, SS, M.Hum. KAJIAN MAKNA FILSAFAT DAN PENERIMAAN STUART HALL TERHADAP TRADISI MUJAHADAH SELAPANAN KEMIS PAHING DI DESA GIYANTI MAGELANG SEBAGAI MATERI PEMBELAJARAN BAHASA JAWA UNTUK SMP. Skripsi, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sebelas Maret Surakarta, April 2026. Penelitian ini bertujuan untuk; (1) menjelaskan makna filosofis tradisi Mujahadah Selapanan Kemis Pahing di Desa Giyanti Kecamatan Candimulyo Magelang; (2) menjelaskan penerimaan masyarakat terhadap tradisi Mujahadah Selapanan Kemis Pahing di Desa Giyanti Kecamatan Candimulyo Magelang; (3) menjelaskan relevansi tradisi Mujahadah Selapanan Kemis Pahing di Desa Giyanti, Kecamatan Candimulyo, Magelang dalam pembelajaran bahasa Jawa di sekolah menengah pertama. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif, dengan pendekatan Resepsi Stuart Hall. Data dalam penelitian ini meliputi prosesi, hasil wawancara dengan masyarakat dan peserta Mujahadah, serta dokumentasi terkait tradisi tersebut. Sumber data dalam penelitian ini adalah peristiwa, informan, dan dokumen. Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan purposive sampling. Penelitian ini menggunakan teknik pengumpulan data berupa observasi, wawancara, dan analisis dokumen. Uji validitas data dalam penelitian ini menggunakan triangulasi sumber. Analisis data dalam penelitian ini menggunakan teknik analisis menurut Milles dan Huberman yang menganalisis dengan mereduksi data, menyajikan data, dan menarik kesimpulan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tradisi Mujahadah Selapanan Kemis Pahing di Pemakaman Candisari mengandung makna filosofis yang dapat dilihat melalui tiga aspek, yaitu verbal, non-verbal, dan material. Aspek verbal terlihat dalam doa, zikir, dan ucapan syukur. Aspek non-verbal terlihat dalam sikap dan perilaku. Sementara itu, aspek material terlihat dalam penggunaan tempat dan peralatan yang mendukung pelaksanaan kegiatan Mujahadah. Penerimaan masyarakat menunjukkan bahwa generasi tua memaknai tradisi Mujahadah sebagai warisan budaya dan amalan spiritual yang perlu dilestarikan, sedangkan generasi muda menunjukkan pemahaman yang baik terhadap tradisi tersebut karena banyak yang terlibat langsung sebagai anggota panitia dan pelaksana kegiatan. Selain itu, tradisi Mujahadah juga relevan sebagai sumber pembelajaran kontekstual yang berkaitan dengan budaya daerah. Tradisi ini juga mendukung pengembangan ranah afektif, kognitif, dan psikomotor siswa, dan relevan dengan kompetensi belajar dasar mengenai teks deskriptif tentang budaya atau tradisi daerah.