Abstrak


Studi Fenomenologi: Meaning of Life pada Mahasiswa Tunadaksa di Universitas Sebelas Maret


Oleh :
Ummu Masruroh - K3122081 - Fak. KIP

Ummu Masruroh. K3122081. Dr. Ulya Makhmudah, M.Pd. STUDI FENOMENOLOGI: MEANING OF LIFE PADA MAHASISWA TUNADAKSA DI UNIVERSITAS SEBELAS MARET. Skripsi, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta. Mei 2026. Mahasiswa penyandang disabilitas tunadaksa menghadapi berbagai tantangan selama menjalani pendidikan di perguruan tinggi, baik yang berkaitan dengan keterbatasan fisik, aksesibilitas, maupun interaksi sosial. Meskipun demikian, setiap individu memiliki pengalaman yang berbeda dalam menemukan dan membangun meaning of life sehingga penting dipahami secara mendalam melalui pengalaman subjektif yang mereka alami. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pengalaman subjektif mahasiswa penyandang disabilitas tunadaksa di Universitas Sebelas Maret dalam menemukan dan membangun makna hidup selama menjalani proses pendidikan di Perguruan Tinggi. Penelitian ini dilaksanakan dengan menggunakan pendekatan kualitatif metode studi fenomenologi. Sumber data penelitian ini, yaitu mahasiswa tunadaksa di Universitas Sebelas Maret yang memenuhi kriteria penelitian. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik wawancara. Teknik uji validitas data yang digunakan yaitu teknik member check. Analisis data melalui teknik analisis data transendental yang mencakup tiga tahapan, yakni epoche, varian imajinatif, serta sintesis makna dan esensi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengalaman subjektif masing-masing subjek terhadap meaning of life dapat dideskripsikan sebagai berikut. (1) Aspek nilai kreatif pada ketiga subjek tercermin dalam aktivitas produktif yang beragam, yaitu Subjek I melalui bisnis, magang, dan organisasi; Subjek II melalui prestasi olahraga dan wirausaha kreatif; serta Subjek III melalui karya literasi dan keterlibatan organisasi. (2) Aspek nilai penghayatan tampak melalui pengalaman emosional, sosial, dan spiritual, yaitu Subjek I melalui kejujuran, empati, dukungan orang tua, dan praktik religius; Subjek II melalui refleksi diri, kepedulian sosial, dan pengalaman estetis; serta Subjek III melalui rasa syukur, kepedulian, dan aktivitas religius. (3) Aspek nilai sikap ditunjukkan melalui respons terhadap keterbatasan fisik, yaitu Subjek I dengan ketabahan, kontrol diri, dan keberanian; Subjek II dengan penerimaan diri yang positif dan kemandirian; serta Subjek III dengan keberanian mengambil keputusan dan penerimaan terhadap kondisi fisik. Temuan ini menegaskan bahwa meaning of life pada mahasiswa tunadaksa merupakan hasil dari pengalaman subjektif yang terwujud melalui nilai kreatif, nilai penghayatan, dan nilai sikap dalam merespons keterbatasan. Saran bagi peneliti selanjutnya dapat mengkaji lebih lanjut pengembangan nilai kreatif, nilai penghayatan, dan nilai sikap dalam membangun meaning of life pada mahasiswa tunadaksa.