Abstrak


Konstruksi Sosial Maskulinitas di Kalangan Generasi Z terhadap Toxic Masculinity di Universitas Sebelas Maret


Oleh :
Kanaya Trisa Dewi Nugroho - D0322057 - Fak. ISIP

Fenomena toxic masculinity muncul sebagai hasil konstruksi sosial dalam budaya patriarkal yang menuntut laki-laki untuk selalu tampil kuat, dominan, dan menekan ekspresi emosional. Kondisi ini menarik untuk dikaji di lingkungan perguruan tinggi, khususnya pada mahasiswa Generasi Z yang berada dalam fase pencarian identitas namun kerap menghadapi stigma jika tidak memenuhi standar maskulinitas tertentu. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pemaknaan toxic masculinity pada mahasiswa laki-laki Generasi Z di Universitas Sebelas Maret (UNS), memahami faktor pembentuk pola pikir tersebut, serta mengidentifikasi dampaknya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode fenomenologi dan berlandaskan pada teori Konstruksi Sosial Peter L. Berger. Penelitian dilakukan di Fakultas Teknik dan Fakultas Keolahragaan UNS dengan informan mahasiswa laki-laki Generasi Z berusia 18–24 tahun. Data primer diperoleh melalui wawancara mendalam dengan informan dan observasi di lingkungan kampus, sedangkan data sekunder diperoleh dari jurnal dan artikel ilmiah yang relevan. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi. Informan dipilih menggunakan teknik purposive sampling, sementara validitas data diuji melalui triangulasi sumber. Analisis data dilakukan menggunakan model interaktif Miles dan Huberman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa toxic masculinity dimaknai oleh mahasiswa sebagai tuntutan untuk menjadi laki-laki yang kuat, dominan, mandiri, dan tidak menunjukkan kerentanan emosional. Pemahaman tersebut terbentuk melalui pengaruh budaya fakultas yang lekat dengan nilai-nilai maskulinitas tradisional, lingkungan pertemanan, serta pola asuh keluarga yang menanamkan ekspektasi tertentu terhadap laki-laki. Praktik toxic masculinity tercermin dalam tekanan untuk menyesuaikan diri dengan standar maskulinitas, penggunaan ejekan terhadap laki-laki yang dianggap kurang maskulin, serta kecenderungan menekan ekspresi emosi. Dampak yang ditimbulkan meliputi tekanan psikologis, kesulitan mengekspresikan perasaan, rendahnya keberanian untuk mencari bantuan ketika menghadapi masalah, serta munculnya perilaku merendahkan dan budaya senioritas di lingkungan kampus.