Daerah Istimewa Yogyakarta merupakan wilayah dengan tingkat kerawanan gempa yang tinggi akibat keberadaan Sesar Opak dan zona subduksi di selatan Pulau Jawa. Kondisi tersebut mendorong kebutuhan akan fasilitas yang tidak hanya berfungsi sebagai pusat edukasi dan penelitian kebencanaan, tetapi juga mampu mempertahankan fungsi dan beradaptasi terhadap kondisi darurat. Perancangan Centre of Excellence for Earthquake Resilience sebagai Eduvacation di Bantul mengintegrasikan fungsi edukasi, riset, dan mitigasi dalam satu kawasan yang berorientasi pada resiliensi. Konsep Eduvacation diterapkan melalui galeri edukasi yang memberikan pengalaman pemahaman kebencanaan sekaligus dapat bertransformasi menjadi ruang perlindungan saat kondisi darurat. Resiliensi diwujudkan melalui tiga pendekatan utama, yaitu durability, adaptability, dan saving energy. Aspek durability diterapkan melalui konfigurasi massa yang teratur, struktur radial, sistem base isolation Lead Rubber Bearing (LRB), serta penggunaan material ringan. Adaptability diwujudkan melalui ruang multifungsi, furnitur modular, dan jaringan sirkulasi yang memungkinkan perubahan fungsi saat bencana. Sementara itu, saving energy diterapkan melalui pemanfaatan energi terbarukan, pencahayaan alami, dan ventilasi alami untuk mendukung keberlanjutan operasional. Enam massa berbentuk lingkaran disusun secara radial mengelilingi ruang pusat sebagai strategi konektivitas, orientasi, dan redundansi kawasan. Perancangan ini diharapkan menghasilkan pusat edukasi dan penelitian kebencanaan yang mampu mendukung kesiapsiagaan, keberlanjutan fungsi, dan pemulihan pascabencana.
Kata kunci: Resiliensi Arsitektur, Centre of Excellence, Eduvacation, Lead Rubber Bearing (LRB), Gempa bumi.