Abstrak
Agensi dan Pemberdayaan Perempuan Pada Kelompok Wanita Tani (KWT) Urban di Kota Surakarta
Oleh :
Adnandya Muhammad Triwardana - D0322003 - Fak. ISIP
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh menurunnya
indeks ketahanan pangan Kota Surakarta. Di sisi lain, Kota Surakarta memiliki
52 Kelompok Wanita Tani (KWT) yang berpotensi menjadi ruang pemberdayaan
perempuan dalam mendukung ketahanan pangan perkotaan. Namun, perempuan masih
sering menghadapi ketimpangan dan ketidaksetaraan gender dalam sektor
pertanian. Penelitian ini bertujuan menganalisis agensi dan upaya pemberdayaan
perempuan dalam KWT urban di Surakarta serta mengidentifikasi tantangan yang
dihadapi dalam mendukung ketahanan pangan. Penelitian ini menggunakan
pendekatan kualitatif dengan strategi multiple case study pada KWT Ngudi
Makmur dan KWT Rukun Makmur. Menggunakan kerangka teori pemberdayaan Sara Longwe
dan Naila Kabeer. Data dikumpulkan melalui wawancara dan dokumentasi, kemudian
dianalisis menggunakan teknik cross case synthesis. Validitas data
melalui triangulasi sumber. Hasil penelitian menunjukkan bahwa KWT mendukung
ketahanan pangan secara bertingkat. Menyediakan akses pangan segar bagi anggota
dan keluarga pada tingkat rumah tangga, menjadi penopang perputaran modal untuk
komoditi yang berhasil dijual pada tingkat kelompok, hingga pada tingkat komunitas
menjadi jalan pintas akses pangan lokal warga sekitar, dan berkontribusi dalam berbagai
kegiatan sosial warga. Tantangan utama yang dihadapi meliputi keterbatasan
lahan, beban peran ganda perempuan, rendahnya literasi digital, dan terbatasnya
pemasaran produk. Berdasarkan teori Naila Kabeer, pemberdayaan perempuan
tercermin melalui kemampuan KWT memanfaatkan sumber daya dan agensinya sehingga
menghasilkan capaian berupa peningkatan keterampilan, partisipasi sosial, dan
kontribusi terhadap ketahanan pangan. Sementara, dalam kerangka Longwe
menunjukkan pemberdayaan perempuan telah mencapai dimensi kesejahteraan atas
kemudahan mendapatkan sayuran, terbukanya akses lahan dan pendampingan,
penyadaran akan kesetaraan gender, dan partisipasi terhadap kegiatan sosial,
meskipun dimensi kontrol terhadap sumber daya strategis masih terbatas.