Abstrak
PENILAIAN KUALITAS TANAH PADA BEBERAPA TOPOSEKUEN LAHAN KERING DI KABUPATEN PACITAN
Oleh :
Rika Febrian Fatarasyi - H0219082 - Fak. Pertanian
PENILAIAN KUALITAS TANAH PADA BEBERAPA TOPOSEKUEN LAHAN KERING DI KABUPATEN PACITAN. Skripsi : Rika Febrian Fatarasyi (H0219082). Pembimbing : Supriyadi dan Rahayu. Program Studi Ilmu Tanah, Fakultas Pertanian, Universitas Sebelas Maret – Surakarta.Kualitas tanah merupakan indikator penting dalam mendukung produktivitas pertanian dan keberlanjutan ekosistem. Kabupaten Pacitan memiliki topografi yang bergelombang dan berbukit bukit. Perbedaan posisi pada toposekuen menyebabkan perbedaan karakteristik tanah pada setiap posisi lereng yang dapat berpengaruh terhadap kualitas tanah. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis indeks kualitas tanah (IKT) pada beberapa toposekuen di Kabupaten Pacitan, mengkaji pengaruh posisi lereng dan toposekuen terhadap karakteristik tanah, serta menentukan indikator utama kualitas tanah berdasarkan metode Minimum Data Set (MDS). Penelitian dilaksanakan di Kecamatan Donorojo, Pringkuku, dan Arjosari, Kabupaten Pacitan, Jawa Timur. Metode penelitian yang digunakan yaitu deskriptif eksploratif melalui survei lapangan dan analisis laboratorium. Pengambilan sampel dilakukan secara transek berdasarkan posisi lereng meliputi summit, shoulder, backslope, footslope, dan toeslope dengan total 23 titik sampel. Analisis data dilakukan menggunakan ANOVA dan uji DMRT untuk memperoleh informasi mengenai pengaruh toposekuen dan posisi lereng terhadap karakteristik tanah serta terhadap IKT. Korelasi Pearson dan Principal Component Analysis (PCA) untuk menentukan indikator MDS dan menghitung nilai IKT.Hasil penelitian menunjukkan bahwa toposekuen tidak berpengaruh nyata dan posisi lereng berpengaruh terhadap indeks kualitas tanah. Nilai IKT pada berbagai toposekuen berkisar antara 0,258–0,289, sedangkan nilai IKT pada posisi lereng berkisar antara 0,257–0,297 dan seluruhnya termasuk dalam kelas rendah. Nilai IKT pada posisi lereng summit 0,297; shoulder 0,285; backslope 0,257; footslope0,265 dan toeslope 0,261. Indikator utama yang berperan dalam menentukan kualitas tanah berdasarkan metode MDS meliputi C-Organik, P-Tersedia, pH, bobot volume (BV), K-Tersedia, C-Biomassa Mikroba, dan N-Total. Kualitas tanah di wilayah penelitian dibatasi oleh beberapa faktor pembatas seperti porositas, DHL, KTK, dan KB sehingga diperlukan upaya perbaikan. Upaya perbaikan kualitas tanah dapat dilakukan dengan penambahan bahan organik, pemberian pupuk dan pembenah tertentu, serta pengembalian residu tanaman.