Abstrak
ANALISIS KOMPARATIF TERJEMAHAN METAFORA PADA FILM OVER THE MOON DAN FILM THE TWITS VERSI DUBBING (INGGRIS-ARAB & INGGRIS - INDONESIA)
Oleh :
Hasna Wardatul Jannah - B0522027 - Fak. Sastra dan Seni Rupa
Penelitian ini bertujuan menganalisis dan membandingkan jenis metafora, teknik terjemahan, serta kualitas terjemahan metafora dalam dubbing film animasi Over The Moon dan The Twits versi bahasa Arab (BSa 1) dan bahasa Indonesia (BSa 2) di platform Netflix. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan taksonomi metafora Newmark (1988), teknik terjemahan Molina dan Albir (2002), serta model penilaian kualitas terjemahan Nababan dkk. (2012) yang mencakup keakuratan, keberterimaan, dan keterbacaan. Data dikumpulkan melalui observasi dubbing kedua film dan dinilai oleh tiga rater.Hasil penelitian menunjukkan dari 34 data metafora pada Over The Moon dan 13 data pada The Twits, Metafora Orisinal menjadi jenis paling dominan pada kedua film (58,8% dan 53,33%), diikuti Metafora Konvensional/Baku (32,4% dan 46,2%). Dominasi Metafora Orisinal pada Over The Moon berkaitan dengan karakter filmnya yang penuh imajinasi kosmis, sedangkan tingginya proporsi Metafora Baku dan Baru pada The Twits tidak lepas dari statusnya sebagai adaptasi novel klasik Roald Dahl yang ungkapannya telah bergeser menjadi lebih konvensional. Pada analisis teknik terjemahan, Reduksi mendominasi dubbing Arab dan Indonesia Over The Moon (29,82% dan 36,17%), disertai penggunaan Kreasi Diskursif (5,26%) yang hanya muncul pada dubbing Arab film ini namun justru menghasilkan tingkat keakuratan terendah. Pada The Twits, Adaptasi mendominasi dubbing Arab (28,57%) karena kebutuhan penyesuaian kultural, sementara Padanan Lazim mendominasi dubbing Indonesia (45,45%) karena banyak metafora sudah memiliki padanan langsung.Pada aspek kualitas, The Twits menghasilkan kualitas terjemahan yang sedikit lebih tinggi pada seluruh aspek dibanding Over The Moon, terutama keakuratan (BSa 1: 84,6%; BSa 2: 76,9%, versus 61,8% dan 76,5%). Temuan menarik justru muncul pada aspek keberterimaan dan keterbacaan yang secara konsisten tinggi di kedua film (82,35%–100%), bahkan pada Over The Moon BSa 1 yang keakuratannya rendah, hal ini mengindikasikan bahwa pemilihan teknik dalam dubbing juga dikondisikan oleh keterbatasan teknis audiovisual seperti sinkronisasi bibir dan durasi, ketimbang semata jenis metafora sumbernya.