Abstrak
PENGALAMAN KOMUNIKASI KORBAN SILENT TREATMENT DALAM KOMUNIKASI DARING
Oleh :
Almira Neysa Fauzi - D0222009 - Fak. ISIP
Perkembangan
komunikasi yang sebelumnya hanya dapat dilakukan secara tatap muka saat ini
juga dapat dilakukan secara daring melalui berbagai media. Namun, karakteristik
komunikasi daring yang minim isyarat nonverbal dan berpotensi memunculkan
manipulasi pesan memberikan peluang terjadinya perilaku silent treatment
yang bahkan mulai dikategorikan sebagai bentuk kekerasan psikis. Penelitian ini
bertujuan untuk menganalisis pengalaman komunikasi korban serta
mengidentifikasi dampak emosional dan relasional dari perilaku silent treatment
dalam komunikasi daring pada kalangan persahabatan mahasiswa Universitas
Sebelas Maret. Penelitian ini mengacu pada teori komunikasi interpersonal termediasi oleh
Konijn et al. (2008), ditinjau berdasarkan delapan elemen komunikasi dan tiga
dimensi Quality of Communication Experience (QCE), dengan metode
kualitatif dan pendekatan studi kasus. Data dikumpulkan melalui wawancara
terhadap tujuh informan yang dipilih melalui purposive sampling dan studi
dokumen.
Hasil
penelitian menunjukkan bahwa keseluruhan pengalaman komunikasi korban silent
treatment merupakan pengalaman komunikasi negatif karena menghasilkan
permasalahan komunikasi berupa perasaan diabaikan, ketidakjelasan pesan, dan
kesalahpahaman, sejalan dengan yang disampaikan Yadani dalam (Afra, 2023).
Dampak emosional yang dirasakan korban ditunjukkan melalui perasaan bingung,
stres, sedih, kecewa, jengkel, dan overthinking sebagai respons
emosional atas peristiwa yang dialami, sebagaimana dampak emosional dapat
memunculkan berbagai emosi negatif akibat suatu peristiwa (Humairah &
Komalasari, 2024). Sementara itu, dampak relasional ditunjukkan melalui
menurunnya kualitas hubungan interpersonal yang ditandai dengan renggangnya
hubungan, berkurangnya intensitas komunikasi, hubungan yang tidak lagi leluasa
seperti sebelumnya, hingga terjadinya terputusnya komunikasi, sejalan dengan
dampak relasional yang memengaruhi kualitas hubungan dengan orang lain
(Ramadhan et al., 2025). Perilaku ini mencerminkan adanya hambatan dalam proses komunikasi karena
korban tidak memperoleh umpan balik (feedback) sebagaimana yang
diharapkan. Akibatnya, elemen feedback tidak terpenuhi dan kualitas
pengalaman komunikasi pada dimensi clarity, responsiveness, dan comfort
menjadi terganggu.