Abstrak


PERAN POLITICAL SOCIETY DAN CIVIL SOCIETY DALAM HEGEMONI IDEOLOGI ISIS DI KOTA RAQQA 2014–2017


Oleh :
Nawajunda Niedo Sahaja - B0522056 - Fak. Ilmu Budaya

Nawajunda Niedo Sahaja, B0522056, 2026. Peran Political Society dan Civil Society dalam Hegemoni Ideologi ISIS di Kota Raqqa 2014–2017. Skripsi, Program Studi Sastra Arab, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Sebelas Maret Surakarta. Konflik di Suriah pasca-Arab Spring membuka peluang bagi kelompok ISIS untuk menguasai Kota Raqqa pada Maret 2014. ISIS tidak hanya mengandalkan kekuatan militer, melainkan juga membangun sistem pemerintahan terstruktur guna menanamkan ideologinya kepada masyarakat secara luas. Penelitian ini berfokus pada peran political society dan civil society ISIS secara sinergis dalam membangun hegemoni ideologi di Raqqa periode 2014-2017, serta mengukur kualitas tingkat hegemoninya. Analisis penelitian ini menggunakan kerangka Teori Hegemoni Antonio Gramsci yang membedakan suprastruktur kekuasaan antara instrumen political society (koersi/paksaan fisik) dan civil society (konsensus/persuasi ideologis). Metode yang diterapkan adalah deskriptif analitis dengan pendekatan kualitatif melalui teknik studi kepustakaan (library research). Data primer dikumpulkan dari dokumenter VICE News, laporan aktivis Raqqa is Being Slaughtered Silently (RBSS), dan arsip dokumen birokrasi ISIS, sedangkan data sekunder berasal dari literatur ilmiah terkait. Hasil penelitian menunjukkan bahwa political society ISIS diwujudkan melalui Hisba (polisi moral) dan Dīwān al-Qadhā' wa al-Mazhālim (departemen peradilan) yang menjalankan fungsi koersif melalui hukuman publik yang brutal sebagai instrumen intimidasi. Sementara itu, civil society digerakkan oleh Diwan Ta'līm (departemen pendidikan) dan Dīwān al-Da'wah wa al-Masajid (departemen dakwah) guna menginternalisasi doktrin radikal. Kedua perangkat ini bekerja secara sinergis membentuk stato integrale (negara integral), meskipun batas antara koersi dan konsensus menjadi kabur dalam praktiknya. Berdasarkan analisis Gramsci, tingkat hegemoni ISIS di Raqqa dikategorikan sebagai hegemony decadent (hegemoni merosot). Kepatuhan warga lokal hanya bersifat mekanis demi kelangsungan hidup akibat tingginya kalkulasi risiko, bukan karena persetujuan ideologis yang tulus. Kondisi ini diperparah oleh munculnya resistensi harian dari para guru dan aktivis tandingan, serta keretakan internal di dalam tubuh kekuasaan ISIS itu sendiri. Kata Kunci: ISIS, Raqqa, hegemoni, political society, civil society, Antonio Gramsci, Hisba, Dīwān al-Qadhā' wa al-Mazhālim, Dīwān Ta'līm, Dīwān al-Da'wah wa al-Masājid.