Abstrak
Hubungan Stres Akademik dan Status Gizi dengan Handgrip Strength pada Remaja di SMPN 15 Surakarta
Oleh :
Muhammad John Bintang Brilliant - G0022141 - Fak. Kedokteran
Latar Belakang: Handgrip strength merupakan indikator sederhana yang dapat digunakan untuk menilai kekuatan otot dan status kesehatan fisik pada remaja. Kekuatan otot dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk status gizi dan kondisi psikologis seperti stres akademik. Penelitian yang mengkaji hubungan stres akademik dan status gizi dengan handgrip strength pada remaja masih terbatas, khususnya pada siswa sekolah menengah pertama.Metode: Penelitian ini merupakan penelitian analitik observasional dengan desain cross-sectional. Sebanyak 97 siswa SMP Negeri 15 Surakarta diikutsertakan dalam penelitian. Tingkat stres akademik diukur menggunakan Educational Stress Scale for Adolescents (ESSA), status gizi dinilai berdasarkan z-score IMT/U, dan handgrip strength diukur menggunakan hand dynamometer. Analisis hubungan dilakukan menggunakan uji korelasi Spearman Rank dengan tingkat kemaknaan p < 0,05.Hasil: Rata-rata usia responden adalah 13,16 ± 0,55 tahun dengan rata-rata skor ESSA sebesar 38,45 ± 5,75. Sebagian besar responden berjenis kelamin laki-laki (51,5%) dan memiliki status gizi baik (66,0%). Pada pengukuran handgrip strength dominan, 58,8% responden termasuk kategori normal, sedangkan pada tangan non-dominan 68,0% responden termasuk kategori lemah. Terdapat korelasi negatif yang bermakna antara stres akademik dan handgrip strength dominan (r = -0,229; p = 0,024), namun tidak ditemukan hubungan yang bermakna antara stres akademik dan handgrip strength non-dominan (r = -0,163; p = 0,110). Status gizi menunjukkan korelasi positif yang bermakna dengan handgrip strength dominan (r = 0,332; p = 0,001) maupun non-dominan (r = 0,203; p = 0,046).Simpulan: Stres akademik berhubungan negatif dengan handgrip strength dominan, sedangkan status gizi berhubungan positif dengan handgrip strength dominan maupun non-dominan pada siswa SMP Negeri 15 Surakarta. Hasil ini menunjukkan bahwa kondisi psikologis dan status gizi berperan terhadap kekuatan otot remaja.