Abstrak
ESTETIKA GRAFFITI KARYA RISKI REAS DI YOGYAKARTA
Oleh :
Adhitya Ramadhan - K3221002 - Fak. KIP
Adhitya Ramadhan.
K3221002. Pembimbing: Dr. Nanang Yulianto,
S.Pd., M.Ds.ESTETIKA GRAFFITI KARYA RISKI REAS DI YOGYAKARTA. Skripsi.Pogram Studi Pendidikan Seni Rupa,
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sebelas Maret Surakarta.
Desember 2025
Penelitian
ini bertujuan untuk mengkaji strategi penciptaan dan muatan estetika non-formal
pada karya graffiti toponim buatan
Riski Reas di ruang publik Kota Yogyakarta. Subkultur graffiti yang secara historis lekat dengan stigma vandalisme dan dorongan ego-sentris,
didekonstruksi oleh Riski Reas melalui pendekatan sosial yang mengedepankan
penulisan nama wilayah administratif kampung. Penelitian ini menggunakan metode
kualitatif deskriptif. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi lapangan
terhadap enam sampel karya representatif (Wirobrajan, Sagan, Kotagede,
Mujamuju, Sayidan, dan Karangwaru), wawancara mendalam dengan seniman, serta
studi dokumentasi. Analisis data dilakukan menggunakan pendekatan estetika
non-formal, sosiologi seni, dan komunikasi visual. Hasil penelitian menunjukkan
bahwa: (1) Strategi penciptaan Riski Reas menandai adanya pergeseran paradigma
dari ego-sentris menuju sosio-sentris melalui praktik placemaking. Pendekatan
kultural berupa srawung bersama warga menghasilkan konsensus dan legitimasi
sosial, mengubah status seniman dari penginvasi menjadi kolaborator visual.
Secara teknis, strategi ini ditopang oleh hibridasi handstyle yang mempertahankan tingkat keterbacaan (legibilitas),
serta penggunaan warna monokrom (hitam-putih) sebagai antitesis dari kebisingan
visual kota. (2) Muatan estetika non-formal pada karya ini melampaui keindahan fisik, yakni terletak
pada fungsinya sebagai
penanda wilayah (signage) organik yang mengafirmasi kebanggaan identitas lokal
warga. Selain itu, karya ini memancarkan dorongan batin
seniman sebagai "Arsiparis Jalanan" yang mendokumentasikan memori
kota, serta menjadi wujud resistensi halus (subtle
resistance) untuk merebut kembali kedaulatan ruang publik dari hegemoni
iklan komersial.