Abstrak
Fenomena Education Mismatch Pegawai Operasional di Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kota Surakarta
Oleh :
Luthfy Nur Laily Fathonah - V8022068 - Sekolah Vokasi
Transformasi digital menuntut kesiapan dan keselarasan kompetensi
aparatur pemerintah dalam menyelenggarakan pelayanan publik. Namun, realitas
operasional di lapangan sering kali diwarnai oleh disparitas kualifikasi keilmuan.
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis profil fenomena education mismatch
pada pegawai operasional di Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kota
Surakarta, serta mengkaji implikasi dan strategi adaptasi pegawai dalam
menghadapi kendala teknis akibat ketidaksesuaian tersebut. Penelitian ini
menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi kasus.
Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam terhadap 23 pegawai
operasional, pejabat struktural, dan staf kepegawaian, serta didukung oleh
instrumen observasi non-partisipatif dan studi dokumentasi. Hasil penelitian
menunjukkan adanya dua bentuk utama education mismatch, yaitu vertical
mismatch, berupa penurunan kualifikasi ijazah sarjana (S1) ke formasi SMA/D-III
sebagai penyesuaian administratif transisi tenaga non-ASN menjadi PPPK Paruh
Waktu; dan horizontal mismatch, berupa ketidaklinieran bidang studi pegawai
(seperti bidang ilmu pertanian, tata boga, dan perhotelan) dengan tuntutan
operasional sistem kependudukan digital. Ketidaksesuaian ini berdampak langsung
pada perlambatan adaptasi teknologi dan ketimpangan distribusi beban kerja. Untuk
menjaga keberlangsungan ritme pelayanan, pegawai secara proaktif merespons
kondisi tersebut melalui strategi adaptasi yang meliputi inisiatif pembelajaran
mandiri (self-learning), pertukaran pengetahuan informal antar-rekan kerja, serta
fleksibilitas penugasan lintas fungsi. Meskipun strategi adaptif tersebut terbukti
penting dalam menopang kelancaran pelayanan publik, kontribusi pegawai yang
bersifat situasional ini belum dapat diakomodasi secara formal dalam penilaian
Sasaran Kinerja Pegawai (SKP) pada sistem E-Kinerja karena keterbatasan
indikator administratif yang berbasis target kuantitatif.