Abstrak
ANALISIS STRATEGI IMF DALAM RESTRUKTURISASI SEKTOR PERBANKAN LIBANON PADA MASA KRISIS EKONOMI 2022-2025
Oleh :
Nurul Hikmah - D0419041 - Fak. ISIP
Penelitian ini membahas mengenai strategi International
Monetary Fund (IMF) dalam mendorong restrukturisasi sektor perbankan Libanon
selama krisis ekonomi Libanon pada tahun 2022–2025. Penelitian ini akan
berfokus pada pemulihan sektor perbankan Libanon sebagai topik utama
pembahasan. Krisis ekonomi Libanon ditandai oleh keruntuhan sistem keuangan,
hilangnya kepercayaan publik terhadap perbankan, serta stagnasi ekonomi
berkepanjangan. Dalam penanganan krisis ini, Libanon meminta bantuan IMF untuk
memberikan dana talangan (bailout) senilai $3 miliar melalui program Extended
Fund Facility (EFF). Sebagai responnya, IMF memberikan beberapa persyaratan
yang perlu dipenuhi guna mencairkan dana talangan yang diajukan oleh Libanon.
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis strategi IMF dalam mendorong
restrukturisasi sektor perbankan di Libanon selama masa krisis ekonomi
2022-2025. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi
kasus serta teori neoliberalisme institusional sebagai landasan analisis. Dari
penelitian didapati hasil bahwa strategi IMF memiliki peran signifikan
dalam membentuk arah reformasi ekonomi Libanon, khususnya melalui mekanisme conditionality
yang menempatkan restrukturisasi sektor perbankan sebagai syarat utama
pemulihan ekonomi, yang mencakup restrukturisasi bank,
pengakuan kerugian sektor keuangan, peningkatan transparansi, serta penguatan
regulasi perbankan. Melalui kerangka
teori neoliberalisme institusional ini, IMF dipandang sebagai rezim
internasional yang membentuk pilihan kebijakan Libanon dengan menetapkan
syarat-syarat restrukturisasi, memantau
pelaksanaannya, dan mendorong kepatuhan terhadap standar tata kelola keuangan
yang diakui secara internasional..Namun demikian, implementasi restrukturisasi
yang didorong IMF belum berjalan secara optimal sehingga dampak reformasi
terhadap stabilitas sistem keuangan Lebanon masih terbatas. Hambatan utama
berasal dari faktor domestik Lebanon, seperti fragmentasi politik, sistem
sektarian, resistensi elite politik dan sektor perbankan, serta lemahnya kapasitas
institusional negara. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi
dalam memahami hubungan antara krisis domestik, pengaruh lembaga internasional,
dan proses pengambilan kebijakan dalam konteks globalisasi ekonomi.