Abstrak
KAJIAN PENDIDIKAN INFORMAL DALAM PEWARISAN NILAI BUDAYA PERAJIN WAYANG KULIT DI KAMPUNG WAYANG DESA KEPUHSARI, MANYARAN WONOGIRI.
Oleh :
Dewantoro Agani - K3220019 - Fak. KIP
Dewantoro Agani. K3220019. Pembimbing: Prof. Dr. Slamet Subiyantoro, M.Si.
KAJIAN PENDIDIKAN INFORMAL DALAM PEWARISAN NILAI
BUDAYA PERAJIN WAYANG KULIT DI KAMPUNG WAYANG DESA
KEPUHSARI, MANYARAN WONOGIRI. Skripsi, Fakultas Keguruan dan Ilmu
Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta, Januari 2026.
Penelitian ini bertujuan untuk (1) mendeskripsikan latar belakang terbentuknya
Kampung Wayang di Desa Kepuhsari, Manyaran, Wonogiri ditinjau dari aspek
sejarah, ekonomi, sosial budaya, dan politik (2) mengkaji pendidikan informal
dalam pewarisan nilai budaya perajin wayang kulit antar generasi, serta (3)
mengidentifikasi faktor pendorong dan penghambat dalam proses pewarisan
tersebut. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan jenis
studi kasus tunggal. Lokasi penelitian berada di Kampung Wayang Desa Kepuhsari,
Manyaran, Wonogiri. Data dan sumber data penelitian ini meliputi Informan
(perajin tua dan perajin muda), peristiwa (pembelajaran informal pada pembuatan
wayang kulit), dan dokumen (arsip Kantor Desa Kepuhsari dan buku atau dokumen
yang ada sebelumnya). Teknik pengambilan sampel dilakukan dengan purposive
sampling. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam,
observasi berpartisipasi pasif (nonpartisipan), dan analisis dokumen. Uji keabsahan
data menggunakan triangulasi Teknik. Analisis data menggunakan model analisis
mengalir yang meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan.
Hasil penelitian ini adalah sebagai berikut. Pertama, Kampung Wayang Desa
Kepuhsari terbentuk melalui keterkaitan aspek sejarah, ekonomi, sosial budaya, dan
politik. Meskipun dari aspek politk pelaksanaannya masih menghadapi beberapa
kendala dan belum merata. Kedua, pendidikan informal dalam pewarisan nilai
budaya perajin wayang kulit di Kampung Wayang berlangsung melalui lingkungan
keluarga perajin secara turun-temurun. Melalui proses tersebut tidak hanya
diwariskan keterampilan teknis pembuatan wayang, tetapi juga nilai-nilai budaya,
pengetahuan, keyakinan, norma, dan praktik budaya, nilai-nilai tersebut tidak
diajarkan secara formal, melainkan diwariskan melalui pengalaman kerja yang
berulang dan berkembang secara alami dalam kehidupan sehari-hari. Ketiga, Faktor
pendorong meliputi tradisi keluarga dan minat individu terhadap wayang kulit,
keberadaan Kampung Wayang sebagai ruang budaya, manfaat ekonomi dari
kerajinan wayang kulit, serta dukungan teknologi digital. Sementara itu, faktor
penghambat meliputi rendahnya minat sebagian generasi muda untuk menjadi
perajin, pengaruh modernisasi dan perubahan gaya hidup, keterbatasan sarana dan
fasilitas pendukung, serta dukungan pemerintah yang belum optimal dan merata.