Abstrak
Aplikasi Health Belief Model pada Remaja dengan Perilaku Konsumsi Minuman Beralkohol di Kota Surakarta
Oleh :
Muhammad Azim Zaqfaryawan - S022308014 - Fak. Kedokteran
Latar
Belakang: Konsumsi alkohol di
kalangan remaja tetap menjadi masalah kesehatan masyarakat yang utama karena
konsekuensi fisik, psikologis, dan sosial yang merugikan. Health Belief Model
(HBM) menyediakan kerangka teoretis untuk memahami perilaku terkait kesehatan
dengan memeriksa persepsi dan keyakinan individu. Penelitian ini bertujuan
untuk menganalisis hubungan antara konstruk HBM dan perilaku mengonsumsi
alkohol di kalangan remaja di Kota Surakarta, Indonesia.Subjek
dan Metode: Studi potong
lintang (cross-sectional) dilakukan
terhadap 200 remaja berusia 16–24 tahun di Kota Surakarta, Jawa Tengah,
Indonesia. Peserta terdiri dari 100 remaja yang pernah mengonsumsi alkohol dan
100 remaja yang tidak pernah mengonsumsi alkohol. Responden dipilih menggunakan
metode snowball sampling dan fixed disease sampling. Data dikumpulkan
menggunakan kuesioner terstruktur yang mengukur mengeenam konstruk HBM, yaitu
persepsi kerentanan (perceived
susceptibility), persepsi keparahan (perceived
severity), persepsi manfaat (perceived
benefits), persepsi hambatan (perceived
barriers), isyarat untuk bertindak (cues
to action), dan efikasi diri (self-efficacy),
bersama dengan perilaku konsumsi alkohol. Hubungan antar variabel dianalisis
menggunakan analisis jalur (path
analysis).Hasil:
Persepsi kerentanan
berhubungan negatif dengan perilaku konsumsi alkohol (β = -0,023; 95% CI =
-0,046 hingga -0,001; p = 0,044). Efikasi diri menunjukkan hubungan positif
terkuat dengan perilaku tidak mengonsumsi alkohol (β = 0,979; 95% CI =
0,940–1,018; p < 0,001). Persepsi keparahan berhubungan negatif dengan
efikasi diri (β = -0,081; p = 0,002), sedangkan persepsi hambatan berpengaruh
positif terhadap efikasi diri (β = 0,946; p < 0,001). Efikasi diri
berhubungan positif dengan isyarat untuk bertindak (β = 0,980; p < 0,001).
Namun, hubungan antara isyarat untuk bertindak dengan perilaku tidak
mengonsumsi alkohol (p = 0,190) serta persepsi hambatan dengan isyarat untuk
bertindak (p = 0,307) tidak signifikan secara statistik.
Kesimpulan:
Efikasi diri memainkan peran
mediasi yang sentral dalam menjelaskan perilaku tidak mengonsumsi alkohol di
kalangan remaja. Memperkuat keyakinan remaja untuk menolak alkohol, bersama
dengan meningkatkan persepsi kerentanan terhadap bahaya terkait alkohol, dapat
meningkatkan efektivitas program pencegahan alkohol.