Abstrak


NEGOSIASI IDENTITAS PEREMPUAN DALAM KOMUNIKASI INTERPERSONAL DI LINGKUNGAN KERJA DAN KELUARGA


Oleh :
Dini Maulidiyah Kartini - D0222139 - Fak. ISIP

Perempuan dengan peran ganda menghadapi ketegangan yang persisten antara identitas profesional dan domestik. Ketegangan ini kerap memunculkan konflik peran yang berdampak pada cara perempuan berkomunikasi dan menampilkan dirinya di dua ruang yang berbeda, namun penelitian yang secara eksplisit menempatkan komunikasi interpersonal sebagai arena utama negosiasi identitas di institusi pelayanan publik Indonesia masih sangat terbatas. Penelitian ini menganalisis bentuk dan makna komunikasi interpersonal, strategi negosiasi identitas, serta tantangan komunikasi yang dialami pegawai perempuan berkeluarga di BPJS Ketenagakerjaan Surakarta. Studi kasus kualitatif dilakukan terhadap enam pegawai perempuan yang dipilih secara purposif dengan kriteria berstatus menikah, memiliki anak, dan telah menjalani peran ganda minimal dua tahun. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan model interaktif Miles dan Huberman. Kerangka teoritis mengintegrasikan Integrative Identity Negotiation Theory Ting-Toomey dan Dorjee (2019), kerangka komunikasi interpersonal DeVito (dalam Liliweri, 2017), teori komunikasi verbal-nonverbal Kadri (2022), teori konflik peran Greenhaus dan Beutell (1985), konseptualisasi peran ganda Tanjung et al. (2024), serta interaksionisme simbolik Muhid dan Wahyudi (2020). Temuan menunjukkan seluruh informan secara konsisten membedakan komunikasi verbal dan nonverbal lintas konteks, dengan nada suara sebagai elemen paling sulit dikendalikan dan diam sebagai sinyal utama kelelahan emosional. Tiga strategi negosiasi identitas dominan teridentifikasi, yaitu pemisahan konteks secara sadar, fleksibilitas situasional berbasis prioritas, dan komunikasi asertif tentang batas kemampuan, dengan ruang transisi yang berfungsi sebagai buffer identitas. Identitas paling autentik hanya muncul dalam relasi dengan suami. Tiga tantangan komunikasi yang saling memperparah ditemukan, yaitu berbasis waktu, tekanan emosional, dan perilaku, diperparah oleh kerentanan struktural pada sistem dukungan domestik. Temuan ini memperkaya kajian komunikasi interpersonal dan gender di Indonesia sekaligus menawarkan implikasi praktis bagi kebijakan institusional yang responsif terhadap perempuan pekerja dengan peran ganda.