Abstrak


Hikayat Syah Firman dan Saif al-Qamar: Suntingan Teks Disertai Analisis Naratologi Vladimir Propp


Oleh :
Ni'ma Firman Ndhika - B0222057 - Fak. Ilmu Budaya

Permasalahan dalam penelitian ini meliputi (1) bagaimana suntingan teks Hikayat Syah Firman dan Saif al-Qamar (HSF), (2) bagaimana konstruksi cerita dalam HSF berdasarkan teori naratologi Vladimir Propp, dan (3) bagaimana distribusi tokoh-tokoh dalam teks HSF menjalankan fungsi naratif dalam membentuk lingkungan aksi. Penelitian ini bertujuan untuk (1) menyediakan suntingan teks HSF yang baik dan benar, (2) mengidentifikasi konstruksi cerita HSF berdasarkan teori naratologi Vladimir Propp, dan (3) mengidentifikasi distribusi tokoh-tokoh dalam menjalankan fungsi naratif untuk membentuk lingkungan aksi.Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif. Sumber data penelitian adalah naskah Hikayat Syah Firman dan Saif al-Qamar yang merupakan teks pertama dalam naskah berkode Malayo-Polynesien 266 koleksi Bibliothèque nationale de France (BnF). Data penelitian berupa struktur pembangun teks yang memiliki kesesuaian dengan fungsi naratif menurut teori Vladimir Propp. Data diperoleh melalui teknik studi pustaka dengan mengunduh naskah digital dari laman Gallica BnF. Metode penyuntingan yang digunakan adalah metode kritis, sedangkan analisis data menggunakan teori naratologi Vladimir Propp.Hasil penelitian menunjukkan bahwa suntingan teks HSF menghasilkan 43 lakuna, 8 adisi, 7 ditografi, 20 substitusi, 15 transposisi, dan 8 ketidakkonsistenan. Analisis naratologi menunjukkan bahwa HSF memiliki konstruksi cerita yang kompleks melalui enam penggerak cerita yang digabungkan menggunakan dua pola penggabungan penggerak cerita. Dalam konstruksi tersebut ditemukan tujuh belas fungsi naratif, yaitu ketidakhadiran, keterlibatan, kejahatan (dan variasi fungsi kekurangan), perantaraan, keberangkatan, pertama penolong, reaksi pahlawan, perolehan agen magis, penuntunan, pertarungan, kemenangan, penyelesaian awal, kembali, pengenalan, pengungkapan, perubahan rupa, dan pernikahan, serta lima lingkungan aksi, yaitu pahlawan, penjahat, penolong, pemberi agen magis (donor), serta putri dan ayahnya. Hubungan antarfungsi membentuk motif-motif naratif yang berkembang dari kemalangan, pengembaraan, pertolongan, perjuangan, hingga pemulihan serta membangun tema kepahlawanan. Berdasarkan perbandingan dengan tiga hikayat Melayu lainnya, penelitian ini menunjukkan tata naratif hikayat Melayu tersusun atas fungsi inti, fungsi pengembang, dan fungsi yang tidak menjadi pembentuk tata naratif sehingga memperlihatkan struktur naratif yang tetap sekaligus fleksibel.