Jatuhnya
Hindia Belanda ke tangan Jepang pada tahun 1942 menunjukkan keterbatasan sistem
pertahanan kolonial Belanda dalam menghadapi perubahan geopolitik di Asia-Pasifik.
Sebagai wilayah kepulauan, laut menjadi poros ekosistem di Hindia Belanda,
mulai dari jalur logistik maupun mobilitas antar pulau, dalam pertahanan laut kekuatan
maritim menjadi salah satu unsur penting bagi sistem pertahanan Hindia Belanda. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengelolaan dan modernisasi Koninklijke
Marine di Hindia Belanda serta peranannya dalam menghadapi ancaman
geopolitik di Asia pasca Perang Dunia I hingga 1942.
Penelitian
ini menggunakan metode sejarah yang meliputi pemilihan topik, heuristik atau pengumpulan
sumber seperti Indische Verslag 1939 dan Indische Staatsblad 1866
No. 140 serta surat kabar sezaman seperti Soerabaijasch Handelsblad
1940 dan sumber sekunder seperti artikel jurnal yang relevan dengan
penelitian, lalu kritik sumber, interpretasi, dan historiografi (penulisan
sejarah).
Hasil
penelitian ini menunjukkan bahwa pemerintah kolonial melakukan modernisasi
angkatan laut melalui transformasi organisasi, penguatan infrastruktur
pendukung, penambahan armada, dan peningkatan kesiapan operasional sebagai
respon terhadap perubahan situasi keamanan di kawasan. Modernisasi tersebut
meningkatkan kapasitas pertahanan maritim Hindia Belanda meskipun menghadapi
kendala finansial dan dinamika politik dalam negeri. Namun, peningkatan
tersebut belum mampu mengimbangi keunggulan industri militer, kapsitas
opersional dan kekuatan strategis Kekaisaran Jepang menjelang Perang Dunia II
sehingga tidak dapat mencegah jatuhnya Hindia Belanda pada tahun 1942.
Kesimpulan dari
penelitian ini adalah modernisasi yang dilakukan oleh pihak kolonial dapat
dikatakan cukup berhasil dengan penguatan infrastuktur pendukung, penguatan
armada, dan peningkatan kesiapan operasional. Namun, kekalahan Koninklijke
Marine dalam menghadapi armada Kekaisaran Jepang tidak berarti menjadikan
modernisasi tersebut gagal, melainkan karena memang secara kualitas dan
kuantitas serta koordinasi yang dimiliki oleh armada Kekaisaran Jepang memang
lebih baik dibanding pasukan pertahanan bentukan Sekutu bersama dengan Koninklijke
Marine dibawah ABDACOM yang ketika itu minim dengan pelatihan dan
koordinasi bersama.