Abstrak
PENGEMBALIAN FUNGSI SOSIAL PENYANDANG DISABILITAS MENTAL MELALUI REHABILITASI SOSIAL (Studi Kasus di Panti Pelayanan Sosial Disabilitas Mental Samekto Karti Pemalang)
Oleh :
Salwa Hanun Mahfuzhoh - D0322111 - Fak. ISIP
Tingginya angka penyandang disabilitas mental di Kabupaten Pemalang
yang mencapai 676 orang pada tahun 2022 mendorong pentingnya penanganan
melalui rehabilitasi sosial berbasis lembaga. Panti Pelayanan Sosial Disabilitas
Mental Samekto Karti yang berada di Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah menjadi
salah satu lembaga yang berfokus pada pengembalian fungsi sosial penyandang
disabilitas mental agar dapat kembali berfungsi secara wajar di masyarakat.
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pelaksanaan pengembalian fungsi
sosial, mengidentifikasi faktor pendukung dan penghambat, mengetahui peran
keluarga dan masyarakat, serta mengetahui dampak pelaksanaan pengembalian
fungsi sosial penyandang disabilitas mental.
Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi
kasus. Data diperoleh melalui wawancara semi-terstruktur, observasi non
partisipan, dan dokumentasi. Informan dipilih menggunakan teknik purposive
sampling yang terdiri dari penyandang disabilitas mental kelas 2 dan kelas 3,
pekerja sosial, penyuluh sosial, keluarga, dan masyarakat sekitar panti. Validitas
data menggunakan triangulasi sumber. Analisis data menggunakan model analisis
tematik. Penelitian dianalisis menggunakan teori Fungsionalisme Struktural Talcott
Parsons melalui skema AGIL.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelaksanaan pengembalian fungsi
sosial dijalankan melalui penerimaan dan asesmen, bimbingan Activities Daily of
Living, kegiatan bimbingan terstruktur, serta interaksi sosial dan pemberian
tanggung jawab. Faktor pendukung keberhasilan meliputi motivasi penyandang
disabilitas mental, dukungan keluarga, peran aktif petugas panti, penerimaan sosial,
sistem reward, dan kerjasama lintas sektor. Faktor penghambat meliputi kondisi
kambuh, ketidaksiapan keluarga, keterbatasan sumber daya manusia petugas,
kurangnya kesadaran dan keterbukaan penyandang disabilitas mental,
ketidakteraturan minum obat, dan tidak adanya sistem pendukung pasca
rehabilitasi. Peran keluarga dilaksanakan melalui kunjungan rutin, pemantauan
kondisi, persiapan kepulangan, serta pengawasan konsumsi obat dan kontrol medis.
Peran masyarakat dilaksanakan melalui penerimaan dalam kegiatan ibadah,
pengawasan dan pelaporan kepada panti, serta membangun interaksi sosial yang
kondusif. Dampak yang mendukung meliputi perubahan kemampuan Activities
Daily of Living, perubahan perilaku dan peningkatan kepercayaan diri, munculnya
motivasi dan harapan, serta terbentuknya kebiasaan positif. Dampak yang
menghambat meliputi ketergantungan pada sistem panti dan berkurangnya peran
keluarga dalam proses pemulihan.