Abstrak


Hibridisasi Dua Varietas Kedelai (Glycine max L.) untuk Pengembangan Genetik Toleransi Kekeringan dan Peningkatan Hasil


Oleh :
Elsa Fatia Salam - H0722048 - Fak. Pertanian

Kedelai dikenal sebagai salah satu sumber protein utama yang memiliki nilai gizi tinggi. Meningkatnya permintaan kedelai yang didorong oleh pertumbuhan jumlah penduduk memerlukan upaya peningkatan produksi kedelai guna mendukung ketahanan pangan nasional. Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah melalui pemuliaan tanaman dengan metode hibridisasi antara varietas kedelai Demas 1 dan Dega 1, termasuk persilangan resiproknya, untuk menghasilkan varietas kedelai yang memiliki produktivitas lebih tinggi, toleransi yang lebih baik terhadap cekaman lingkungan, serta mutu benih yang lebih baik. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Pertanian, Fakultas Pertanian, Universitas Sebelas Maret, Jumantono, Kabupaten Karanganyar, pada bulan Juni 2025 hingga September 2025. Penelitian menggunakan rancangan persilangan dialel penuh (full diallel crossing), yang melibatkan penyerbukan buatan antara tetua jantan dan tetua betina. Persilangan resiprok dilakukan antara dua varietas kedelai Demas 1 dan Dega 1. Variabel yang diamati meliputi kondisi lingkungan, karakteristik pembungaan, waktu berbunga, serta keberhasilan dan kegagalan persilangan. Data yang diperoleh dianalisis secara deskriptif untuk mengevaluasi keberhasilan persilangan antara varietas kedelai Demas 1 dan Dega 1, baik pada kombinasi persilangan langsung maupun persilangan resiprok. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kedua kombinasi persilangan berhasil menghasilkan polong dan calon benih hibrida. Persilangan Dega 1 × Demas 1 menunjukkan tingkat keberhasilan persilangan yang lebih tinggi, yaitu sebesar 52%, dibandingkan dengan persilangan Demas 1 × Dega 1 yang sebesar 40%. Persilangan Demas 1 × Dega 1 menghasilkan 28 calon benih hibrida, sedangkan persilangan resiproknya, Dega 1 × Demas 1, menghasilkan 39 calon benih hibrida. Benih hibrida yang dihasilkan dari kedua kombinasi persilangan tersebut berpotensi dimanfaatkan sebagai bahan seleksi dalam program pemuliaan kedelai pada tahap selanjutnya.