Abstrak


Makna lan Piwulang Budi Pakarti sajroning Wangsalan Sindhenan sarta Paedahe minangka Materi Pasinaon Basa Jawa ing SMA


Oleh :
Phita Nuryani - K4222059 - Fak. KIP

Penelitian ini bertujuan untuk: (1) menjelaskan makna yang terkandung dalam Wangsalan Sindhenan; (2) menjelaskan ajaran budi pekerti dalam Wangsalan Sindhenan; serta (3) menjelaskan manfaat dan relevansi wangsalan sindhenan sebagai materi pembelajaran bahasa Jawa di SMA. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif. Sumber data yang digunakan berupa cakepan (teks) wangsalan yang bersumber dari buku wangsalan serta rekaman video sindhenan dalam pertunjukan karawitan dan wayang kulit. Data dikumpulkan melalui observasi di lingkungan sekolah untuk mengetahui kebutuhan materi ajar, wawancara dengan ahli sastra, guru bahasa Jawa, dan siswa, serta analisis dokumen. Teknik analisis data dilakukan dengan model analisis interaktif yang meliputi pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Analisis makna menggunakan tinjauan semiotika Roland Barthes yang meneliti tentang makna denotatif dan konotatif. Adapun analisis ajaran budi pekerti menggunakan pemikiran Endraswara yang menjelaskan tentang ajaran membangun keharmonisan bermasyarakat, kemuliaan hidup, tata krama, dan pengendalian diri. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Wangsalan Sindhenan memiliki makna yang sangat mendalam, di mana setiap wangsalan mengandung ajaran luhur untuk kehidupan bermasyarakat. Ajaran budi pekerti yang ditemukan meliputi sikap menghormati orang yang lebih tua, rukun, tolong-menolong, taat kepada Sang Pencipta, beribadah, berdoa, memiliki unggah-ungguh yang baik, rendah hati (anoraga), waspada, pasrah, dan menerima keadaan apapun. Penelitian ini juga menunjukkan bahwa Wangsalan Sindhenan dapat digunakan sebagai materi pembelajaran bahasa Jawa Fase E pada elemen menyimak, sesuai dengan Capaian Pembelajaran “Peserta didik mampu mengevaluasi danmengkreasi informasi berupa gagasan, pikiran, perasaan, pandangan, arahan atau pesan yang akurat dari menyimak berbagai jenis teks karya sastra (basa rinengga/lalongèt dan tembang macapat/tembhâng macapat) dalam bentuk visual dan audio visual. Peserta didik memahami dan mengidentifikasi ciri drama tradisional serta ragam bahasa dalam komunikasi sehari-hari”.