Abstrak
Motivasi Anak Tunanetra dalam Menyelesaikan Wajib Belajar 12 Tahun: Studi Kasus Anak Tunanetra di SLB PGRI Purwodadi Grobogan
Oleh :
Rahma Putri Ariftiana - K5122064 - Fak. KIP
Rahma Putri
Ariftiana, K5122064. Dosen Pembimbing: Vania Martha Yunita S.Pd., M.Pd. Motivasi Anak Tunanetra dalam Menyelesaikan Wajib Belajar
12 Tahun: Studi Kasus Anak Tunanetra di SLB PGRI Purwodadi Grobogan. Skripsi,
Surakarta: Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret,
Juli 2026. Penelitian ini bertujuan untuk mendeksripsikan motivasi anak tunanetra
yang berhenti mengikuti program wajib belajar 12 tahun di SLB PGRI Purwodadi
Grobogan. Program wajib belajar merupakan bentuk upaya pemerintah dalam
menjamin hak setiap warga negara untuk memperoleh pendidikan yang bermutu,
termasuk bagi anak disabilitas. Meskipun demikian, masih ditemukan anak
tunanetra yang tidak menyelesaikan program wajib belajar 12 tahun. Penelitian
ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus. Informan kunci
dari penelitian ini adalah orang tua (ayah dan ibu) dari subjek, sedangkan
kakak kandung, guru kelas dan teman sebaya sebagai significant others. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik
wawancara semi terstruktur, validasi data menggunakan triangulasi
sumber, sementara analisis data dilakukan
dengan model interaktif melalui tahap
pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, serta penarikan
kesimpulan. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa subjek masih memiliki
motivasi intrinsik yang ditunjukkan melalui minat dan ketertarikan yang tinggi
terhadap musik. Namun motivasi intrinsik tersebut belum mampu mendorong subjek
untuk menyelesaikan program wajib belajar 12 tahun. Subjek juga memiliki
motivasi ekstrinsik berupa dukungan yang diberikan oleh kakak kandung, guru,
serta lingkungan sekolah berupa bantuan transportasi dan kunjungan dari pihak
sekolah. Meskipun memiliki motivasi intrinsik dan ekstrinsik, keberlanjutan
pendidikan subjek masih terhenti karena faktor – faktor lain berupa faktor
internal dan faktor eksternal meliputi penurunan kondisi kesehatan fisik,
gangguan kondisi psikologis (rasa takut dan kecemasan saat perjalanan menuju
sekolah), pola tidur yang tidak teratur, kurangnya keterlibatan dan kepedulian
orang tua, serta keputusan final dari orang tua untuk menghentikan pendidikan
subjek.