Abstrak
PEMBENTUKAN IDENTITAS TAMBAHAN DALAM PERAN GANDA MAHASISWA RANTAU PEKERJA UNTUK MANDIRI (STUDI KUALITATIF PADA MAHASISWA UNS)
Oleh :
Daffa Wira Pratama - D0322028 - Fak. ISIP
Daffa Wira Pratama. D0322028.2026. “Pembentukan
Identitas Tambahan Dalam Peran Ganda Mahasiswa Rantau Pekerja Untuk Mandiri
(Studi Kualitatif Pada Mahasiswa UNS)”. Skripsi. Aris Arif Mundayat, Ph. D. Program Studi
Sosiologi. Fakultas Ilmu Sosial dan Politik. Universitas Sebelas Maret
Surakarta. Penelitian ini membahas bagaimana mekanisme negosiasi peran ganda
yang dilakukan mahasiswa rantau pekerja dalam menghadapi tuntutan akademik dan
tuntutan ekonomi, serta faktor struktural apa saja yang memediasi pembentukan
identitas tambahan bagi mahasiswa rantau pekerja. Tujuan penelitian ini memahami
mekanisme negosiasi peran ganda mahasiswa rantau pekerja serta faktor
struktural yang memediasi pembentukan identitas tambahannya. Metode kualitatif
dengan pendekatan studi kasus, meliputi observasi partisipasi terbatas,
wawancara mendalam dengan mahasiswa rantau pekerja, serta dokumentasi terhadap
aktivitas pekerjaan dan media sosial sebagai bukti pendukung analisis. Data
dianalisis secara deskriptif menggunakan teori interaksionisme simbolik George
Herbert Mead dan reproduksi sosial Pierre Bourdieu untuk memahami pembentukan
makna dan identitas diri mahasiswa rantau pekerja dan menganalisis pengaruh
faktor-faktor struktural dalam menjalani kehidupan mahasiswa rantau pekerja.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa mekanisme negosiasi peran ganda mahasiswa
rantau pekerja terjadi melalui proses adaptasi terhadap tuntutan akademik dan
ekonomi yang ada. Konflik peran yang terjadi berupa kesulitan mengelola waktu, mengalami
kelelahan secara fisik dan mental, keterbatasan melakukan aktivitas kampus dan
adanya perubahan hubungan sosial. Untuk mempertahankan kedua peran tersebut,
mahasiswa mengembangkan berbagai strategi pengelolaan waktu, penentuan skala
prioritas, menjaga kesehatan fisik dan mental, serta mencari dukungan sosial.
Penelitian ini juga menemukan bahwa pembentukan identitas tambahan sebagai
“tulang punggung keluarga” dimediasi oleh keterbatasan ekonomi keluarga, status
dalam keluarga, konstruksi gender, serta pengalaman merantau yang mendorong
mahasiswa memaknai pekerjaan sebagai bentuk tanggung jawab terhadap keluarga.