Abstrak
EVALUASI AKTIVITAS PEMOTONGAN KAIN BERDASARKAN SINYAL OTOT TANGAN DARI DIFABEL FISIK KAKI MENGGUNAKAN ELEKTROMIOGRAFI BITALINO
Oleh :
Resya Falisha - I0322105 - Fak. Teknik
Pekerja
difabel fisik kaki di industri garmen umumnya ditempatkan pada stasiun kerja
statis seperti menjahit dan menyetrika, sedangkan aktivitas pemotongan kain
belum melibatkan mereka secara luas akibat tidak adanya data fisiologis
objektif sebagai acuan batas kemampuan fisik yang aman. Penelitian ini
bertujuan menguji normalitas data denyut jantung (BPM) dan homogenitas data,
menganalisis pengaruh jarak jangkauan potong kain terhadap aktivasi otot Extensor
Carpi Radialis Longus dan Biceps Brachii pada operator difabel fisik
kaki pria dan wanita, serta mengevaluasi potensi risiko Musculoskeletal
Disorders (MSDs) secara statistik. Sebanyak 12 partisipan dari FKDB
Boyolali (8 pria, 4 wanita) melakukan aktivitas pemotongan kain pola oval pada
tiga variasi jangkauan (15 cm, 30 cm, 45 cm) dalam posisi duduk menggunakan Round
Cutter TAKATORI TK-B100. Sinyal sEMG direkam menggunakan perangkat BITalino
(r)evolution, diproses melalui Python (spike removal, band-pass
filtering 20–450 Hz, rectification), dan diekstraksi menggunakan
parameter Root Mean Square (RMS). Data diuji normalitas menggunakan Shapiro-Wilk
Test dan dianalisis menggunakan Independent Samples T-Test melalui
SPSS. Data BPM terbukti berdistribusi normal dan homogen antar kelompok
jangkauan (p > 0,05), memenuhi syarat pengujian parametrik, dengan nilai BPM
cenderung meningkat seiring bertambahnya jarak jangkauan (tertinggi pada 45 cm,
±86–91 BPM). Secara deskriptif, aktivasi otot Extensor Carpi Radialis Longus
meningkat seiring jangkauan memendek (0,162 mV menjadi 0,199 mV), dengan wanita menunjukkan kenaikan yang lebih konsisten
dibanding pria yang sebarannya lebih lebar, sedangkan otot Biceps Brachii
menurun (0,108 mV menjadi 0,083 mV), dengan wanita lebih terbebani di jangkauan
jauh dan pria lebih terbebani di jangkauan sedang. Namun, hasil Independent
Samples T-Test pada seluruh pasangan kelompok jangkauan menunjukkan Sig.
(2-tailed) > 0,05, sehingga perbedaan aktivasi otot antar jangkauan tidak
signifikan secara statistik dan tidak terbukti meningkatkan risiko MSDs. Meski
demikian, jangkauan 30 cm tetap direkomendasikan secara ergonomis sebagai batas
kerja aman (safe reach zone) karena memberikan keseimbangan beban kerja
paling optimal antara kedua otot, sebagai acuan desain stasiun kerja inklusif bagi
difabel fisik kaki di industri garmen.