Abstrak
Analisis Pamor Keris Wos Wutah di Omah Keris KRT. Subandi Ngringo, Jaten, Karanganyar
Oleh :
Nur Ichwan Dimas Aji Satriyo - K3220052 - Fak. KIP
Penelitian ini bertujuan untuk (1) mendeskripsikan latar belakang Omah Keris KRT. Subandi, (2) menguraikan makna filosofis dalam pamor keris Wos Wutah, serta (3) membedah motif visual dalam pamor keris Wos Wutah di Omah Keris KRT. Subandi. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif. Lokasi penelitian berada di Desa Ngringo, Kecamatan Jaten, Kabupaten Karangayar, Jawa Tengah. Sumber data diperoleh dari informan yang terdiri dari satu orang Empu dan satu orang Panjak di Omah Keris, beserta dokumen dan peristiwa yang relevan. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui wawancara, observasi secara langsung, dan analisis dokumen dengan Teknik pengambilan sampel purposive sampling. Uji keabsahan data menggunakan teknik triangulasi, sedangkan analisis data menggunakan model analisis interaktif yang meliputi Pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Analisis makna menggunakan kerangka semiotika Roland Barthes (denotasi, konotasi, mitos), dan analisis visual menggunakan teori kritik seni Edmund Burke Feldman (deskripsi, analisis formal, interpretasi, evaluasi). Hasil penelitian menunjukkan bahwa Omah keris merupakan lembaga pelestarian tosan aji keris yang didirikan oleh KRT Subandi Suponingrat pada tahun 1998 di Ngringo, Jaten, Karanganyar sebagai wadah independent di luar lingkungan akademis, dari perjalanannya berguru kepada Empu Yoso Pangarso di Yogyakarta pada masa kebangkitan Kembali seni tempa keris Surakrat era 1970-an, hingga menjadi pionir yang membawa keahlian penempaan keris ke dalam institusi Pendidikan (ASKI/ISI Surakarta). Makna filosofis pamor Wos Wutah mengandung makna konotatif berupa harapan akan kelimpahan rezeki, kemakmuran, kehidupan yang berkecukupan. Bersifat universal karena dapat dimiliki oleh seluruh lapisan masyarakat, serta bersifat tetap meskipun tertanam pada wadah tosan aji yang berbeda. Karakter visual pamor Wos Wutah ditentukan oleh kemurnian kadar nikel yang digunakan, semakin tinggi kemurnian nikel maka kontras visual (byor) antara warna putih dan hitam semakin tajam. Motif Wos Wutah yang ideal terbentuk melalui 36 hingga 48 kali pelipatan logam, diluar jumlah tersebut akan menghasilkan pamor serumpun yaitu kulit semongko atau pedaringan kebak.Ciri khas karya ES terletak pada penciptaan point of interest di tengah bilah.