Abstrak
ANALISIS INTERNALISASI NILAI-NILAI BUDAYA INDUSTRI MELALUI SENSE OF QUALITY, EFFICIENCY, DAN ADVANCED TECHNOLOGY: STUDI KASUS PEMBENTUKAN BUDAYA INDUSTRI DI SMK MIKAEL SURAKARTA
Oleh :
Mikael Dimas Mahardika - K2522043 - Fak. KIP
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui proses
internalisasi nilai-nilai budaya industri melalui Sense of Quality, Sense of
Efficiency, dan Sense of Advanced Technology serta mengidentifikasi
faktor pendukung dan penghambat dalam pembentukan budaya industri di SMK Mikael
Surakarta. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi
kasus. Informan penelitian terdiri atas wakil kepala sekolah bidang kurikulum,
kepala program studi, kepala bengkel, guru praktik, dan siswa yang dipilih
menggunakan teknik purposive sampling. Data dikumpulkan melalui
wawancara mendalam. Keabsahan data diuji menggunakan triangulasi sumber,
sedangkan analisis data dilakukan dengan model Miles dan Huberman yang meliputi
reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa internalisasi
budaya industri di SMK Mikael Surakarta dilaksanakan secara bertahap sesuai
perkembangan kompetensi siswa pada setiap jenjang kelas. Nilai Sense of
Quality ditekankan pada siswa kelas X melalui pembiasaan ketelitian ukuran,
bentuk, toleransi, penggunaan job sheet, dan sistem penilaian terbuka
berbasis standar kualitas kerja. Nilai Sense of Efficiency mulai
ditekankan pada siswa kelas XI melalui pembiasaan manajemen waktu, penyusunan Work
Preparation/Work Plan (WP), target penyelesaian pekerjaan, serta pengaturan
proses kerja yang efisien. Nilai Sense of Advanced Technology
diinternalisasikan melalui penggunaan mesin berbasis teknologi modern,
pengoperasian mesin CNC, serta pembiasaan siswa untuk beradaptasi dengan
perkembangan teknologi industri. Proses internalisasi dilakukan melalui praktik
langsung, pembiasaan budaya kerja, pengawasan guru, evaluasi objektif, dan
pelaksanaan job order riil dari unit produksi sekolah. Faktor pendukung
meliputi keberadaan job order riil, fasilitas praktik yang memadai,
budaya disiplin sekolah, keterlibatan guru sebagai pembimbing, dan lingkungan
praktikum yang mendukung. Faktor penghambat meliputi mentalitas sebagian siswa
yang belum sepenuhnya siap terhadap budaya kerja industri, keberagaman latar
belakang siswa yang memerlukan proses adaptasi, keterbatasan fasilitas akibat
kerusakan mesin, serta perbedaan tingkat pemahaman siswa terhadap materi
praktik. Internalisasi ketiga nilai budaya industri tersebut berkontribusi dalam
membentuk karakter kerja siswa yang disiplin, bertanggung jawab, berorientasi
pada kualitas, efisien, dan adaptif terhadap perkembangan teknologi industri.