Abstrak


Proses Pelatihan Batik Tulis dalam Program Sekolah di SMA Negeri 1 Girimarto oleh Batik Kalimasada Wonogiri


Oleh :
Evi Nur Hasanah - K3222019 - Fak. KIP

Evi Nur Hasanah. K3222019. Pembimbing: Esterica Yunianti S.Pd., M.Pd. PROSES PELATIHAN BATIK TULIS DALAM PROGRAM SEKOLAH DI SMA NEGERI 1 GIRIMARTO OLEH BATIK KALIMASADA WONOGIRI. Skripsi, Surakarta: Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan. Universitas Sebelas Maret Surakarta. Juli 2026. Penelitian ini bertujuan untuk (1) mendeskripsikan pelatihan batik tulis dalam program sekolah sebagai pendidikan non formal yang diselenggarakan oleh Batik Kalimasada Wonogiri, (2) mendeskripsikan faktor yang menjadi pendukung dan penghambat dari pelatihan batik tulis dalam program sekolah yang diselenggarakan oleh Batik Kalimasada Wonogiri. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Sumber data penelitian ini meliputi peristiwa pelatihan batik tulis dalam program sekolah, informan (Instruktur batik, peserta pelatihan dan guru pendamping), dan dokumen (rekaman wawancara, buku, jurnal, dan artikel tentang teori yang diteliti). Teknik pengambilan sampel dilakukan dengan Purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik observasi partisipasi pasif, wawancara mendalam dan analisis dokumen. Teknik uji validitas data yang digunakan adalah triangulasi sumber dan review informan. Analisis data menggunakan teknik analisis interaktif. Hasil penelitian ini adalah sebagai berikut: Pertama, proses pelatihan batik tulis dalam program sekolah oleh Batik Kalimasada Wonogiri dilaksanakan melalui tiga tahapan, yaitu pra-pelatihan, pelaksanaan pelatihan, dan pasca pelatihan. Proses pelatihan telah menerapkan pendekatan Experiential Learning yang meliputi tahapan Concrete Experience, Reflective Observation, Abstract Conceptualization, dan Active Experimentation. Kedua, faktor pendukung pelatihan meliputi kompetensi instruktur, metode pelatihan berbasis praktik dan kerja kelompok, ketersediaan fasilitas dan bahan pelatihan, efektivitas biaya, serta keberadaan program kokurikuler sekolah. Adapun faktor penghambat meliputi kemampuan teknis peserta didik yang masih berada pada tahap belajar, yaitu kesulitan dalam menggunakan canting, mengatur suhu malam, dan perbedaan kecepatan penyelesaian pekerjaan antar kelompok.